Saya Makan Uang Rakyat!

uangrakyatSesuai dengan judul di atas, saya memang orang yang doyan makan uang rakyat. Sejak kecil saya terbiasa menyantap uang rakyat. Eits, tunggu sebentar. Perlu saya luruskan bahwa saya bukan seorang koruptor dan bukan bagian dari keluarga koruptor.

Kebiasaan makan uang rakyat muncul kurang lebih ketika saya duduk di SLTP. Dihh, masih kecil udah doyan makan uang rakyat. Haha

Sejak SLTP saya sering mendapat bantuan, keringanan uang sekolah, dan beasiswa. Dari mana asalnya? Dari sekolah dan pemerintah. Sekolah dan pemerintah dapat uang dari mana? Ya dari uang rakyat!

Berlanjut ketika SMA. Saya kembali mendapat keringanan biaya sekolah. Sekali lagi, saya makan uang rakyat.

Saat lomba beberapa waktu lalu, hadiah yang saya terima, makanan enak, dan hotel berbintang semua dibiayai APBN. Dari mana asalnya? Uang Rakyat!

Makanan lezat 3x sehari, coffeebreak 2x sehari, outbound, dan susu ultr*m*lk gratis selama sebulan pelatnas dibiayai siapa? Uang rakyat juga!

Tidak berhenti sampa di situ. Kuliah 4 tahun ke depan, insyaAllah saya juga akan makan uang rakyat. Termasuk asrama dan pembinaan lainnya yang berasal dari sedekah rakyat.

Hmm… sepertinya saya sudah cukup gendut karena terlalu banyak makan uang rakyat. Tapi sekali lagi saya menegaskan: saya bukan koruptor!

Iya, saya ingat saya selalu makan uang rakyat.
Saya ingat kok bahwa saya hidup dari pajak petani miskin dan nelayan pinggiran.
Saya akan selalu ingat itu…

Saya bukan bangga karena selalu makan uang rakyat, tapi saya hanya ingin mengingatnya.

Makan dari uang rakyat itu enak. Saya tidak perlu lagi memikirkan banyak hal. Saya tidak perlu pontang-panting ke sana kemari hanya untuk mencari biaya sekolah dan kuliah, karena rakyat sudah menjamin kehidupan saya.

Di sisi lain, makan dari uang rakyat menjadi beban tersendiri. 3 kata yang paling tepat untuk menyebutkan jenis bebannya adalah Beban Hutang Budi. Masa sih saya yang sudah gendut dan sehat dari uang rakyat tidak mampu berkontribusi untuk rakyat?

Yang saya mau di masa depan kurang lebih seperti ini: Dulu Novita kecil selalu disuapi uang rakyat, sekarang Novita dewasa telah dan harus mampu memberi makan untuk rakyat.

Suatu balas budi yang masih klise, tapi cukup untuk membuat saya tetap maju, setidaknya sampai hari ini. Ya, memang beban yang cukup berat bagi saya. Tapi itulah yang saya butuhkan. Beban yang bisa memberi motivasi bagi saya untuk berbuat lebih dari orang lain.

Jangan harap saya akan berhenti makan uang rakyat! Saya akan terus makan uang rakyat yang telah menjadi makanan favorit saya. Bahkan mungkin saja saya akan menjadi lebih rakus. Saya akan berjuang untuk mendapatkan beasiswa, sehingga saya bisa puas makan uang rakyat.

 

Madiun, Juli 2014

tertanda

Novita