Golongan Masyarakat berdasarkan Waktu dan Uang yang Dimiliki

this!Banyak sekali tokoh sosiologi dan cendekiawan lain yang menggolongkan masyarakat berdasarkan kepribadian dan indikator lainnya. Kali ini saya akan mencoba membuat penggolongan masyarakat berdasarkan kepemilikan waktu dan uang.
Ini hanya pengelompokan masyarakat ala saya sendiri, berdasarkan pandangan saya sendiri. Kalau ada kesalahan, mohon dimaklumi, karena saya bukan cendekiawan pintar… hehee
 
1. Golongan punya waktu tetapi tidak punya uang.
Mau jadi golongan ini? Gampang kok. Nggak usah kerja apapun. Hehe.. Golongan ini yang paling merepotkan dan menyusahkan pemerintah, dan biasa disebut dengan pengangguran. Golongan pertama ini selalu mengklaim bahwa mencari pekerjaan itu susah. Namun pada dasarnya, golongan ini hanyalah golongan orang-orang malas yang memang tidak mau kerja. Waktu yg mereka miliki hanya untuk makan, tidur, makan, tidur, dan makan lagi (kalau mereka masih punya uang, hihii)

2. Golongan punya uang tetapi tidak punya waktu.
Kebalikan dari golongan pertama, golongan kedua ini dapat dikatakan yang paling berduit dan paling pekerja keras. Yap, golongan ini diisi oleh para pengusaha besar nan sibuk. Jika pasangan Anda berasal dari golongan ini, dijamin hidup akan berkecukupan. Tapi sayang, waktu yg tersisa selain untuk bisnis sangat sedikit. Perhatikan saja para CEO ataupun pemegang saham di perusahaan besar. Mereka kaya raya, rumah dimana2, tapi untuk ‘bertamu’ 5 menit saja harus mengatur jadwal jauh hari sebelumnya.
 
3. Golongan tidak punya uang dan tidak punya waktu.
Mayoritas penduduk Indonesia masuk golongan yang cukup kasihan ini. Golongan ini adalah yang paling apes karena sama sekali tidak punya waktu menikmati hidup. Siapakah mereka? Mereka adalah..Jeng..jeng… Karyawan! Golongan ini memang lebih ‘punya’ daripada golongan 1. Tapi uang yg mereka punyai tidak cukup untuk menikmati hidup, paling-paling hanya cukup untuk bertahan hidup saja. Waktu yang mereka miliki selain untuk bekerja juga minim. Golongan ini adalah golongan paling tangguh dan pekerja keras, karena berangkat pagi pulang malam, macet dijalanan, kehujanan, kepanasan, namun tetap setia pada gaji kecil mereka.
Masih mau jadi karyawan yang ‘nggak punya apa-apa’? Kalau saya sih ogah. Haha

4. Golongan yang punya uang dan punya waktu.
Golongan ini adalah yang paling bahagia, sekaligus yang paling sedikit jumlahnya. Anggota dari golongan ini bukan orang-orang yg bekerja keras, tetapi bekerja cerdas. Contohnya adalah pebisnis Oriflame di grup dBC Network. Mereka bekerja seperti tidak bekerja. Hanya duduk manis di depan laptop di rumah kapanpun yang mereka mau, uang dengan sendirinya mengalir ke rekening. Sambil jaga anak, sambil masak, sambil nungguin anak pulang sekolah pun bisnis mereka tetap lancar. Golongan ini yang paling menjadi dambaan semua orang, namun hanya segelintir yang mau mewujudkannya *Dont ask me why*

Menjadi bagian dari golongan keempat, mempunyai kebebasan finansial dan waktu bukan hanya mimpi lagi selama teman2 semua mau mewujudkannya.Kalau teman2 ingin menjadi bagian dari golongan ke empat, bisa menghubungi aku
Novita Eka
call/SMS 08983545313
PIN 7C9F800C
Email novita.eka.r@gmail.com
Facebook http://facebook.com/novita.ekaa

Jadi, teman-teman masuk golongan mana?
Golongan manapun teman2 saat ini dan esok hari, adalah pilihan teman2 sendiri.
Semoga memilih pilihan yang tepat yaaa….. 😉

Advertisements

Hari Libur Pertama, 10 Juli 2014

Hari ini, hari pertamaku menghabiskan waktu seharian dan semalaman di rumah pada bulan Ramadhan. Jangan bertanya apa yang aku lakukan hari ini, karena aku hanya melakukan rutinitas hari libur, yaitu tidur lebih lama dan berbisnis Oriflame Online. Lebih baik aku menceritakan tentang hari-hari selain hari ini.

Hari pertama di bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 29 Juni 2014, menjadi penanda hari pertamaku bekerja sebagai pegawai paruh waktu di Galeri Elzatta Madiun. As usual, hari pertama sama dengan hari kikuk. Nggak kenal siapa-siapa, nggak kenal produknya apa dan ditempatkan di rak yang mana, dan nggak tau cara melayani customer. Tapi menurutku tidak terlalu buruk untuk sebuah hari pertama 🙂

Tanggal 7 Ramadhan, ketika pertama kali aku berbuka di rumah bersama keluarga. Meski hanya nasi dengan lauk tempe dan sambal, rasanya sangat bahagia. Percayalah, berbuka di rumah jauh lebih nikmat dari apapun.

Hari demi hari terlewati. Hingga saat ini, hari libur pertamaku bekerja. Suka duka? Tetap saja ada. Baru seminggu di sini, sudah banyak pelajaran yang aku dapatkan. Mulai dari melayani customer, hingga tren hijab terkini.

Ada lagi pelajaran yang cukup penting, yaitu jadilah customer yang tidak merepotkan. Jika serius beli ya beli. Jangan hanya tanya-tanya, susah-susah dicarikan stok di gudang, semua dicoba satu persatu, ehh pada akhirnya ngacir nggak jadi. Satu yang ingin aku katakana, yaitu AKU RAPOPO.

Ah ya, satu lagi ‘suka’ di sini adalah dari segi cuci mata. Tidak bisa dipungkiri, mata ini kerap tergoda oleh ‘mas-mas ganteng’ yang seliweran kesana kemari *ehh *salahfokus

Semoga pengalaman lebih akan terus tergali di tempat ini, hingga berakhirnya kontrak di malam takbir.

Bismillah 🙂

Subhanallah dan Masyaallah yang Kerap Terbalik

Kata Subhanallah yang berarti “Mahasuci Allah” dan kata Masyaallah yang berarti “Allah telah berkehendak akan hal itu”, dua kata yang sudah tidak asing kita dengar sering diucapkan dalam keseharian bila orang sedang merasa takjub melihat sesuatu yang luar biasa, melihat istri yang cantik, kaget karena melihat sesuatu yang mengerikan, atau mendengar hal-hal yang kurang menyenangkan.

Dua kata ini tentu memiliki nilai tersendiri bila dibandingkan kalau kita hanya mengucapkan kata-kata biasa seperti “amboi… indahnya” bila melihat pemandangan yang indah atau umpatan-umpatan yang tak pantas bila melihat hal yang kurang menyenangkan.

Kebanyakan masyarakat indonesia mengucapkan “Subhanallah” ketika melihat atau mengalami hal-hal yang menakjubkan dan menyenangkan dan akan mengucapkan “Masyaallah” saat mengalami kejadian yang kurang menyenangkan atau keburukan

Pernah ada orang indonesia yang bercengkrama dengan muslim asli Arab, karena takjub dan berniat memuji orang Arab tersebut dia pun berucap “Subhanallah” , tapi apa yang dikatakan muslim arab tersebut?
(kurang lebih dalam bahasa indonesianya)

“Astaghfirullahal ‘adzhim, maaf ustad kalau ada yang bathil dalam diri & ucapan saya tolong segera diluruskan!”

Nah ternyata muslim Arab tersebut menganggapnya berbeda dari yang kita harapkan. Lalu..bagaimana seharusnya letak pengucapan yang benar?

Subhanallah, terdiri dari kata Subhan dan Allah. Kata Subhan sendiri asal katanya adalah sabh, yang berarti tidak tercampuri atau dapat diartikan sebagai suci.

Subhanallah, Maha Suci Allah. Nah, kapan kira-kira kita harus mengingatkan diri kita, berdzikir bahwa Allah Maha Suci, bahwa Allah satu-satunya Dzat yang terbebas dari segala khilaf yang tercela? Subhanallah diucapkan saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, ucapkan “Subhanallah” sebagai penegasan bahwa Allah Mahasuci dari keburukan tersebut.

Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya:

“Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan” (QS. 40-41).

Masyaallah bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.”
(QS. al-Kahfi 18:39)

Dengan mengetahui perbedaan penggunaan dua kata ini tentu akan memberikan makna yang lebih baik dalam pergaulan dengan sesama muslim maupun dalam usaha mendapatkan rahmat karena selalu mengingat Allah SWT dalam berbagai kesempatan dan situasi. Wallahu’ala

sumber: iwansetiawan.com, titiksenyap.wordpress.com

catqs

My 16th

            Entah apa yang terjadi pagi ini. Mungkin matahari sedang malas-malasnya  menampakkan diri. Atau awan yang terlalu angkuh untuk menutupinya. Yang jelas udara terasa begitu dingin. Sedingin diriku saat ini. Burung-burung yang biasanya cerewet dengan kicauannya, pagi ini bungkam. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan pagi ini dan pagi-pagi sebelumnya dan pagi-pagi sesudahnya, selain kesenduan.
            Kemalasan untuk bangkit menyergapku. Tapi kupikir ini bukan malas seperti biasa. Bukan malas seorang siswa untuk belajar. Bukanlah juga malas bangun pagi ketika hari Minggu. Tapi ini lebih pada rasa takut. Takut akan hari yang baru. Takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Takut jika aku berada di lain dunia yang tidak bermatahari. Takut akan kesunyian dan kehampaan yang akan menjemputku tak lama lagi.
            “Joy, apa kamu sudah bangun, Sayang?”
            Itu suara ibuku. Suara yang tiap pagi aku ingin dengarkan. Aku pasti akan merindukan suara malaikatnya suatu saat nanti.
            “Morning, Dear!” seru ibuku ketika membuka pintu kamarku. Ia memberikan ciuman selamat pagi di keningku. Aku hanya diam. Ibuku membaringkan tubuhku yang lemas ini di belakang tubuhnya. Ia menggendongku. Layaknya aku masih anak kecil.
           Ia memandikanku dengan telaten. Senyumnya begitu menyakitiku ketika aku tau aku akan pergi. Ia mengambilkan pakaian untukku. Kali ini dress selutut berwarna peach.
            Memangnya ada apa hari ini? hari apa ini? tanggal berapa ini? bulan apa ini? tahun berapa ini? Aku sudah tidak menghitung hari lagi, entah sudah berapa lama. Sering aku ingin bertanya tanggal berapa ini, tetapi itu sungguh menyesakkan. Aku tak punya cukup suara untuk dikeluarkan. Ketika aku membuka mulutku, hanya angin yang keluar dari kerongkonganku. Aku bahkan sudah lupa bagaimana cara memanja dan merengek meminta sesuatu. Aku sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali aku berdebat dengan orang tuaku dan apa yang kami perdebatkan.
            Ibuku menyisir rambutku yang panjang dan lurus. Yang entah sejak kapan tidak kusentuh dengan tanganku sendiri. Pagi ini ia juga mendandaniku. Aku lihat warna-warna natural dalam palet di genggamannya. Make up ini kering dan asing ketika menyentuh kulitku yang dingin. Lip balm yang juga berwarna peach berharap bisa melembabkan bibir pucatku.
            Ibu membawaku kedepan cermin besar yang ada di tengah-tengah ruang tamu. Kulihat siapa di dalam cermin itu. Ia cantik, wajahnya nyaris sempurna. Ia terduduk diatas kursi yang menopang hidupnya bertahun-tahun ini. Tubuhnya kurus dan putih pucat. Namun sebentar lagi wajah rupawan itu tak kan ada lagi. Ia hanya akan meninggalkan kenangan untuk orang yang menyayanginya. Ia adalah aku.
            Ibuku duduk menghadap kursi rias. Wajahnya keriput, lebih tua 10 tahun dari umur sebenarnya. Matanya berkantung. Nampak sekali ia lelah. Ia lelah menghadapiku. Mungkin ia juga lelah menggendongku tiap pagi.
            Aku membenci apa yang sudah terjadi padaku. Aku membenci penyakit ini.
            Kuingat beberapa waktu lalu, kupikir beberapa tahun lalu. Aku terus mengeluh pergelangan kaki kananku sakit. Benar-benar sakit. Hingga beberapa waktu kemudian aku tak sengaja mendengar percakapan ibu dengan dokter tampan itu. Aku divonis mengidap kanker tulang.
            Aku juga ingat dokter pernah menawarkan amputasi dari lutut kebawah. Itu ketika kanker menyebalkan ini menyebar. Tapi aku dan ibuku tak mau. Aku tidak ingin diolok-olok teman-temanku karena tak punya kaki. Sedangkan ibuku tidak ingin kelak jika aku meninggal nanti aku tidak dikubur dengan organ yang lengkap. Dokter bilang itu hanya satu-satunya cara agar aku sembuh, tapi itu juga tidak menjamin aku akan sembuh. Hanya 50% bilangnya saat itu.
“Kamu akan sembuh, Sayang,” seingatku ibu sering mengucap itu.
            Tapi apa yang terjadi? Aku tak kunjung sembuh. Aku semakin lemah dan tak berdaya. Aku semakin kacau. Penyakit itu merenggut masa depanku, mengambil paksa senyum remajaku. Penyakit itu juga yang bertanggung jawab akan keriput di wajah ibuku. Aku menangis berhari-hari menatapi masa depanku. Kelabu itu bahkan sudah jelas terlihat dari waktuku sekarang.
            Salahkan aku yang pernah menyalahkan Tuhan. Salahkan aku yang tak bersyukur akan hidup ini. Salahkan aku yang terus merutuki takdir untukku.
            Tuhan, apa ini bentuk keadilanmu? Apakah aku orang yang beruntung mendapat semua ini? Apa menurutMu ini tidak terlalu berat untukku?
            Percuma aku meronta dan berteriak jika aku bisa. Percuma aku menyalahkan semua orang yang ada disekitarku. Percuma jika aku harus marah. Tak peduli berapa banyak air mata yang kukeluarkan, semua ini pasti akan terjadi.
            Aku menatap cermin didepanku. Deru nafasku sudah tidak teratur lagi. Mungkin karena takut, mungkin pula karena marah. Entahlah. Kulihat sesuatu yang berkilau disudut mataku. Dengan cepat aku mengedipkan mataku untuk menghilangkannya. Aku tak mau menambah ibuku lebih lelah.
            Ibu selesai berdandan. Ia memakai kemeja formal berwarna coklat lembut. Baru kali ini kulihat ibu memakai high heels setelah sekian lama.
            Ibuku cantik. Ibuku cantik. Ibuku cantik.
            Ibu mendorong kursi rodaku keluar. Didepan rumah sudah ada Ayah dan Arini, adikku. Ayah menggendongku masuk ke mobil silver mewah itu. Aku tidak tau itu mobil siapa.
            “Kau tau apa yang kupikirkan hari ini?”tanya Arini.
            Aku menggeleng kecil. “Kau cantik. Ibu cantik. Ayah tampan. Dan aku imut,”katanya.
            Entah mengapa pujian itu terasa begitu hambar untukku. Rasanya aku takkan mendapatkannya lagi.
            Aku melihat ruangan penuh dengan kilau silver didepan mataku. Penuh dengan mawar merah disana sini. Apa ini spesial untukku? Aku tersenyum.
            Ayah membawakanku kue dengan banyak lilin berwarna warni diatasnya. Memangnya aku ulang tahun keberapa? Ah, ternyata aku sudah 16 tahun di dunia ini. Aku tau dari angka yang tertulis diatas kueku.
            Tidak, kenapa kepalaku begitu sakit? dadaku terasa sesak. Seluruh tubuhku tiba-tiba nyeri.
            Mereka menyanyikan lagu ulang tahun dengan hebohnya. Sungguh aku rindu sekali ingin seperti ini, sama ketika aku kecil dulu. Sama ketika Arini kecil dulu.
            “Selamat ulang tahun, Sayang.”
            “Happy Birthday, Kakak cantik.”
            “Kamu hebat, Lucy.” Ucapan Ayah seketika memberiku semangat. Semakin aku bersemangat semakin sakit yang menjalari diriku.
            “Maaf, aku terlambat,Sayang,” kata laki-laki yang baru saja datang. Ia terengah-engah. Dean, kakak laki-lakiku. Kupikir ia baru pulang dari Jepang untukku. Aku (mencoba) tersenyum lebih lebar. Namun sepertinya tidak bisa. Semoga mereka semua bisa melihat sorot mataku yang bahagia hari ini.
            “Make a wish, Dear,”kata Kak Dean.
            Aku berfikir sejenak apa permohonanku.
            Pantaskah aku masih memohon pada Tuhan setelah aku menyalahkannya? Jika bisa, aku ingin menarik ucapanku waktu itu. Sungguh aku bersyukur akan hidup ini. sungguh aku bersyukur mempunyai keluarga yang sayang padaku. Yang tak pernah meninggalku sendirian barang semenitpun. Yang selalu memikirkanku sebagai prioritas utama mereka.
            Aku memejamkan mataku.
            Ya Tuhan, aku tidak berharap Engkau menyembuhkanku. Hilangkanlah keriput dan kantung mata ibuku. Hilangkanlah kegelisahan Ayahku. Biarkanlah kegembiraan pada kakakku. Biarlah adikku tertawa. Bawalah kebahagiaan pada keluargaku. Ukirlah senyuman di bibir mereka. Hapuslah tiap air mata di pipinya. Janganlah Engkau biarkan mereka lelah kembali. Katakan pada mereka jangan menangis lagi. Ijinkanlah mereka mengingatku. Dan ampunilah aku.
            Aku membuka mataku dan bersiap meniup. Namun mereka juga meniup lilin yang banyak itu. Lilin mati seketika setelah  kami menghembuskan nafas kuat bersama-sama.
            Nyeri ini menjadi berkali-kali lipat. Tak pernah aku merasakan sesuatu yang sesakit ini. apakah ini akhir yang aku selalu penasaran?
            Ya Tuhan, jika aku boleh meminta sekali lagi, aku ingin sakit ini berakhir secepatnya. Secepat yang bisa kudapatkan.
            Tiap detik terasa lebih sakit. Tubuh ini rasanya lebih lemas dari biasa. Kulihat banyak kunang-kunang berkeliaran didepanku. Mata ini seolah dimanjakan untuk segera ditutup.
            Aku merasa tubuhku sudah ringan. Tak ada rasa sakit lagi. Aku yakin aku sudah tidak akan merasakan rasa sakit lagi.
            Terima kasih Tuhan, Engkau sudah mengabulkan permintaan terakhirku.
-END-
catqs

Di Balik Alasan Bergabung

Dulu, sekitar setahun yang lalu, ketika saya masih duduk manis di kelas 2 SMA, saya mencari segala sesuatu yang bsa menghasilkan uang di internet. Saya mencoba banyak hal, termasuk pekerjaan mengetik captcha. Saya hanya mencoba, dan sama sekali belum menemukan apapun yang saya harapkan. Selama paket internet masih ada, saya terus mencari dan mencari. Pencarian saya di internet kebanyakan berlabuh pada situs MLM abal-abal.

Sejauh yang saya pelajari saat itu, MLM adalah bisnis yang sangat tidak menguntungkan. Baik, maksud saya menguntungkan bagi yang bergabung duluan, sementara downline yang paling bawah tidak akan mendapat apa-apa. Pandangan pertama saya di Oriflame juga begitu. Bahkan saya sempat bertanya di fanpage Oriflame bagaimana cara bergabung tanpa sponsor. Sayangnya tidak bisa.

Sebelumnya saya ingin Anda tahu bahwa saya bukan orang sembarangan yang dengan mudah percaya, apalagi menguntungkan orang di atas saya begitu saja. Tidak akan pernah. Oleh karena itu saya mencari di satu web ke web lain informasi selengkap-lengkapnya mengenai bisnis Oriflame yang saat itu pendaftarannya murah.

Kemudian saya mencari cara agar bergabung tepat di bawah yang sudah level atas, paling tidak agar seminimal mungkin menguntungkan orang-orang di atas saya. Banyak member dengan level yang masih rendah yang saya temui, tapi saya mencari yang level atas. Bertemulah saya dengan web replika milik Dina Balirita yang saat itu masih Sapphire Director, dan menyerahkan KTP saya padanya. Saya sempat kecewa karena tidak diletakkan tidak padi kaki langsungnya mbak Dina, tetapi lumayan jauh di kedalaman. Tapi yah, mau gimana lagi sudah terlanjur bergabung.

Setelah starterkit datang saya benar-benar mempelajari konsultan manusal, terutama terkait perhitugan bonus. Mata saya benar-benar terbuka saat itu, bahwa Oriflame itu berbeda.

Oriflame tidak sama dengan MLM lainnya.

Oriflame tidak sama dan tidak bisa disamakan dengan money game dan skema piramida.

Pembagian bonus di Oriflame benar-benar adil. Upline tidak bisa naik level jika downline tidak naik level itu memang FAKTA. Downline bisa berada di level yang lebih tinggi dari upline juga FAKTA. Upline di Oriflame tidak hanya ongkang-ongkang kaki. Upline juga bekerja! Sangat jauh berbeda dibanding sistem MLM abal-abal yang saya ceritakan di awal.

Downline memang sangat menguntungkan upline, terkait dengan bonus. Tapi yang harus diingat adalah upline juga menguntungkan downline terkait dengan duplikasi dan bimbingan CUMA-CUMA yang diberikan. Lebih jauh, saya juga menemukan fakta-fakta mencengangkan yang nyaris tidak saya percayai.

1. Oriflame ada di 62 negara. Wow! Jika hanya di seluruh Indonesia atau satu-dua Negara tetangga sih biasa saja. Tapi ini 62 negara di dunia!

2. Oriflame adalah bisnis yang bisa diwariskan. Itu artinya saya tidak perlu berfikir lagi tentang dana pensiun, tentang pekerjaan anak saya nantinya. Yahhh, walaupun sekarang masih remaja -_- tapi gak salah dong berfikirmasa depan… Bahkan saya berfikir Oriflame lebih baik dari asuransi. Ketika saya meninggal nanti, asuransi hanya akan memberikan uang pertanggungan sesuai premi yang saya beli. Sementara Oriflame akan memberi pekerjaan kepada anak saya. Anak saya akan tetap terjamin kebutuhan hidupnya sekaligus tidak manja karena ia bisa bekerja.

3. Reward yang diberikan Oriflame begitu luar biasa. Mulai dari CRV, Cash Award, Seminar, dan lain-lainnya. Itu semua tidak mustahil untuk didapatkan, karena bukan satu-dua saja yang dapat. Tapi RATUSAN!

Meskipun saya paham Oriflame itu adil, saya tetap mempelajari sistem MLM lain meskipun bukan abal-abal. Tapi entah mengapa saya sama sekali tidak ingin bergabung. Karena apa? Karena menurut saya Oriflame lah yang paling adil, Oriflame yang paling memanjakan konsultannya.

Intinya, Oriflame adalah bisnis yang adil dan real. Downline dan upline bukanlah skema piramida, tetapi sebuah teamwork dan sebuah keluarga.

Sejak saat itu, saya mencintai Oriflame.

Saya mencintai sistemnya.

Saya mencintai successplannya.

Saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk bisnis saya ini, untuk bisnis Oriflame MILIK SAYA!

 

Ingin bergabung dengan Oriflame bersama saya?

Kontak saya sekarang!

Novita Eka, Call/SMS 08983545313

FB www.facebook.com/NovitaEkaa

Twitter @NovitaER

Email novita.eka.r@gmail.com

9900

Promo Pendaftaran Mei 2014 hanya Rp 9900!

KLIK DISINI!

 

 

 

 

 

 

Sepuluh Ribu Kembalian Seratus Rupiah (Rp 9900)

9900

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apasih makna kegunaan uang sepuluh ribu kembali seratus atau Rp 9900 untuk teman-teman?
Hanya beli semangkuk bakso?Hanya beli seporsi nasi?
Hanya ituuu?

Ya, hanya itu. Tapi tidak menyesal kan membeli barang-barang diatas? TIDAK. Karena kita ingin. Karena kita mau. Karena kita suka. Karena berguna.

Berikut ini beberapa barang dalam kisaran 10ribu di supermarket sebelah. Harga di bawah adalah sudah harga PROMO di bulan April.

sepuluh ribuanjpg

Dari banyaknya barang yang relative murah diatas, pasti ada yang sehari habis, 2 hari habis atau beberapa hari habis. Intinya HABIS PAKAI.

Tapi di Bulan MEI 2014 ini, uang sepuluh ribu kembalian seratus milik teman-teman insyaAllah tidak akan habis pakai begitu saja. Malah akan bertambah keberkahannya dan nilainya jika teman-teman tahu cara menggunakannya.

Di bulan MEI 2014, Oriflame ada diskon biaya pendaftaran dari 49900 menjadi 9900 saja.

1926734_923456774337515_955690689762058379_n

Apa yang teman-teman dapatkan jika bergabung di Oriflame? Teman-teman akan mendapatkan fasilitas yang sama dengan yang mendaftar di bulan-bulan sebelumnya, yaitu:

–          Diskon tambahan 30% untuk semua produk Oriflame selama 1 tahun
–          Mendapatkan starter kit dan 2 buah katalog
–          Mendapatkan fasilitas online
–          Kesempatan untuk mendapat penghasilkan tak terhingga dan banyak award lainnya.

Bahkan, jika teman-teman bergabung di MEI 2014, teman-teman mendapatkan yang LEBIH dari member Oriflame sebelumnya, yaitu:

1. Belanja pertama Rp. 200.000 dapat FREE CD Album terbaru ROSSA edisi khusus u/ Oriflamers dan bertanda tangan
2. Jika teman-teman mampu belanja 100bp selama 30 hari pertama berhak mendapat Hadiah WP-1 = Maskara GG Rp .198.000
3. Jika teman-teman mampu belanja 100bp selama 30 hari kedua berhak mendapat Hadiah WP-2 = Parfum GG Rp. 449.000
4. Jika teman-teman mampu belanja 100bp selama 30 hari ketiga berhak mendapat Hadiah WP-3 = Tas Power woman handbag Rp. 549.000

Total Hadiah WP senilai Rp 1.196.000!!

72300001-1877800042-content prospect

Satu nilai plus lagi jika teman-teman bergabung did BC-Network, teman-teman akan mendapatkan fasilitas online gratis langsung di bawah pakar internet marketing, Dini Shanti.

Mungkin banyak yang bertanya, bea member 9.900 memang murah, tapi kenapa kita tidak digratiskan saja?
Karena dengan membayar justru disini letak AKAD bisnisnya oriflame..ada sign kontrak antara kita dengan perusahaan oriflame.. ada material starterkit utk kita langsung bisa memulai bisnis oriflame…. si calon partner bisnis pun menghargai bahwa dia sdh mengeluarkan ‘modal awal’ utk biaya pendaftaran.. kalau kita mengajak orang dengan iming iming gratis biaya pendaftaran, percayalah mereka akan dengan mudah mengabaikan utk komit karna tdk merasa ada usaha apapun…

 

Di Oriflame, Mei 2014 ini…

Anda sendiri yang menentukan apakah Rp.9900 akan menjadi sesuatu yang sia-sia

atau tidak….

Semoga membuat pilihan yang tepat yaaa 🙂

 

Novita Eka,

Call/SMS 08983545313

Facebook: Novita Eka
http://facebook.com/NovitaEkaa

Email novita.eka.r@gmail.com

 

Kaleidoskop SMA [Bagian 1]

 

kaleidoskop

Sudah hampir lulus SMA nih… yik kita buat kaleidoskop masa SMA! Siap-siap berflashback ria yaaa…

cerita ini diawali ketika mendaftar SMA. Ada yang emang bener-bener niat daftar di sekolah tercinta, ada juga karena ‘terpaksa’. hayooo, siapa yang awalnya gak niat sekolah di SMA’nya sekarang ngacung? Aku! Aku!

well… karena kita gak kenal sekolah baru, diadakanlah MOS. Masa-masa MOS itu masih cupu-cupu, masih sungkan ngomong ini itu, masih malu-malu mau lah pokoknya. Masih tanya-tanya siapa namanya? Mau negur tapi setengah inget setengah lupa, kalau negur mikir dia inget aku apa nggak ya?Dimarah-marahin senior, bikin yel-yel, rambut dikucir sebanyak tanggal lahir, sepatu sebelahan, dan dandanan yang nggak banget lainnya. Ah, tapi sayang di sekolah gue MOS cuma diisi ceramah pidato dan semacamnya.

Waduh, mulai lirik-lirikan sama kakak kelas nih. Masih inget nggak waktu berburu tanda tangan? Kalo kakak kelasnya ganteng, pasti rame banget *ups* Ada juga lho yang cinlok saat MOS dan jadian beneran. Padahal baru kenal beberapa hari ya -_- hemm.. MOS itu seru untuk beberapa pihak dan biasa aja bagi beberapa pihak termasuk gue. Lo sendiri termasuk yang mana?

MOS itu cuma seminggu, singkat banget. Yuk lanjutin ceritanya…

awal masa KBM, hampir semua mapel masih biasa aja. Kecuali f.i.s.i.k.a. Anak cupu yang belum kenal kerasnya SMA emang belum siap mental menghadapi kejamnya vektor. Alhasil, tidak remed fisika = tidak afdol.

Baru sebulanan di kelas, udah muncul sosok-sosok aktivis. yep, rekrutan organisasi dan ekskul bertebaran dimana-mana. Semakin banyak organisasi artinya semakin banyak acara artinya semakin boleh untuk meninggalkan kelas. Ada yang gitu? Ada pasti.

Lalu waktu berjalan begitu saja. Tiba-tiba udah penjurusan aja. Kegalauan SMA mulai muncul. IPA atau IPS atau Bahasa yaaaa? Dengan pertimbangan sana-sini, tanya sana sini, disertai restu orang tua, akhirnya pilihan jatuh kepadaa……. (IPA/IPS/Bahasa)

Singkat cerita, sekarang lo udah ada di kelas 11 di jurusan masing-masing. Para aktivis makin aktif aja, dan pasti makin sering cabut dari kelas padahal fisika semakin keras. Yang non aktivis harus rela terjebak di kelas dan berkutat dengan materi fisika yang sepertinya kita gak pernah bisa adaptasi. Kalau dulu jadi adik kelas yang selalu mengagumi kakak kelas, sekarang udah mulai ngerasain deh rasanya jadi kakak kelas yang mengagumi adik kelas.

Biasanya nihh ya, kelas 11 itu yang paling berkesan. Banyak konflik antarteman bermunculan di sana sini. Taburan cerita percintaan juga makin ajib aja (kecuali yang single sejati kaya gue). Pengalaman nyontek, telat, gak ngerjain tugas, dsb. Kelas 11 itu bisa dibilang puncak kenakalan SMA. Malu-malu udah ganti jadi malu-maluin. Ujian masih lama. jadi ngapain kalo nggak nakal aja?

-tbc-