Pindah ke novitaeka.com

Hai, Pembaca…

Disini saya akan mengumumkan bahwa blog saya akan berpindah ke domain baru novitaeka.com
Hampir semua posting yang ada di blog ini pelan-pelan akan dipindahkan ke website personal saya yang baru 🙂

Mungkin beberapa bertanya kenapa sih repot-repot pindah blog segala, padahal kan gaada bedanya. Eits, adaa! Tapi belum terasa aja. Jadi, ini alasan saya pindah domain:

1. Lebih profesional
Walaupun blog, tapi kalau dengan domain berbayar misal .com akan terkesan lebih profesional. Barangkali kan suatu saat nanti saya jadi orang yg dituntut serba profesional, hehe

2. Motivasi untuk menulis
Dengan web baru, yang tidak gratis, saya harap bisa menjadi lecutan tersendiri untuk menulis. Udah bayar mahal, apalagi untuk anak kos, masak web’nya mau dibuat sarang laba-laba? Kan sayanggg… Selain itu saya pengen tulisan saya nantinya gak sekedar curhatan random, tapi juga bisa lebih inspiratif. Walaupun kadang saya juga butuh untuk luapan emosi yang random ini, hehe.
Saya ditantang oleh diri saya sendiri untuk membuat posting minimal satu minggu sekali. Challenge accepted!

3. Belajar coding
Walaupun web saya dan blog saya sama-sama berbasis wordpress, namun dengan domain dan self hosting sendiri saya bisa sedikit-sedikit belajar coding. Sekadar informasi, butuh waktu 6 jam untuk membuat tampilan web sama dengan blog. Padahal tema yang saya gunakan sama. Saya belajar (sangat) sedikit bahasa .css atau .php yang super njelimet itu.

4. SEO Friendly
Dibandingkan dengan blog, website saya yg baru lebih SEO friendly. Jadi saya bisa belajar mengoptimalisasikan web saya pada mesin pencari. Bagi penggemar internet marketing pasti tau betapa krusialnya ilmu SEO. Hitung-hitung saya belajar dulu sebelum saya terjun kembali ke dunia IM.

Sekian dulu posting pengumuman ini.

Sampai jumpa di

novitaeka.com

!

Aku Bukan Malaikat

Yang jauh di sana akan tergantikan oleh yang selalu ada

Kurang lebih begitu ucapannya saat itu. Aku bertanya-tanya apakah memang itu yang akan terjadi? Jika ya, seberapa waktu yang dibutuhkan ‘yang selalu ada’ untuk selalu ada?

Pertama kali aku mendengar hal itu aku senang. Ya, aku senang. Aku berharap aku bisa merubah hatinya. Saat itu aku ingin memposisikan diriku sebagai yang selalu ada. Sebagai orang yang yang bisa dipandangnya setiap saat, yang bisa diminta bantuan setiap waktu, yang selalu ada kapanpun sebagai teman bercengkrama dan bercerita.

Aku ingin menjadi sesosok malaikat yang dibutuhkannya. Ketika dia senang dia akan berbagi padaka, ketika sedih dia juga akan memanggilku.

Sayangnya aku bukan malaikat, tapi sebaliknya. Malaikat macam apa yang menginginkan sesorang dengan memanfaatkannya? Apakah bisa disebut malaikat ketika aku menolongnya dengan pamrih? Malaikatkah aku yang ingin merebutnya?

Aku jahat, bukan? Jangankan malaikat, mungkin aku tak layak disebut manusia. Beruntunglah aku menyadari sisi jahatku secepat ini sebelum aku menjelma sebagai iblis jahat. Aku tidak mungkin menjadi seorang malaikat. Tapi mungkin saja aku belum melangkah terlalu jauh dari batas nurani seorang manusia. Mungkin saja aku bisa kembali…

Aku ingin kembali…
Menjadi manusia seutuhnya…

Oleh karena itu, aku akan menghentikan ini semua. Biarlah aku menahan berbagai perasaan yang bercampur. Aku hanya akan mendekat dengannya sebatas teman baiknya saja, tidak akan lebih. izinkan aku menjadi berguna dengan caraku sendiri. Biarkan semua yang terjadi seakan tak pernah terjadi.

Bahkan ketika hal itu akan sulit, aku akan berpura-pura bahwa itu bukan apa-apa.
Bahkan ketika hal itu akan sakit, aku akan berpura-pura bahwa aku baik-baik saja.

Seperti air yang mengalir. Aku tidak tau entah sesuatu yang pernah ada itu akan sempat terungkap dengan bijak atau terkubur seperti seonggok sampah.

 

Di sebuah kereta,
Desember 2014

Surat untuk Nathan

Hai, Nathan…

Bagaimana kabarmu di sana? Baik-baik saja bukan? Tenang saja, kamu tidak perlu mencemaskanku. Aku baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja, meskipun saat ini aku sedikit lelah.
Nath, aku ingin bertanya padamu. Apakah kamu marah padaku? Sejak akhir Agustus lalu, kira-kira sudah 3 bulan berlalu sejak hari ini aku melupakanmu. Aku tidak memikirkan tentangmu sama sekali. Aku harap kamu mau memaklumi kesibukanku yang baru ini. Aku minta maaf, Nath…

Mungkin kamu tau betapa aku sibuk. Mungkin kamu juga akan memaafkanku. Namun aku ragu apakah kamu mau memaafkanku untuk sesuatu yang ini…

Nath, 3 bulan sudah aku di sini. Banyak pengalaman yang aku dapatkan. Senang dan sedih yang aku alami di sini terlalu banyak untuk diceritakan. Satu per satu orang silih berganti berdatangan untuk dikenal. Mereka sungguh banyak, Nath. Ada ratusan orang baru yang menjadi temanku di sini. Aku senang, Nath!

Mereka semua menyayangiku, Nath. Aku tahu kamu senang mendengar ini, kan? Namun aku juga tahu bagaimana pikiranmu selanjutnya.

Sayangnya hal itu benar, Nath. Aku menemukannya di sini. Dia yang hampir setiap hari berada dalam medan pandangku. Dia yang selalu baik. Dia yang bisa tertawa lepas.
Maafkan aku, Nath…

Nathanku yang selalu baik, kamu tahu bukan jika aku sudah terlalu lama berada dalam kebekuan. Dia dengan semua yang dimilikinya mampu membuatku cair. Membuatku terpaksa melepas semua kepura-puraan yang aku ciptakan. Hanya dia yang bisa membuatku tertawa dengan sebenarnya.

Nathan… sekali lagi aku minta maaf.
Betapapun sempurnanya dirimu untukku, kamu bukanlah bagian dari hidupku. Dulu aku memang menganggap hidup hanya dengan tokoh fiksi sepertimu sudah cukup, namun pada kenyataannya tidak. Maafkan aku yang telah membuat tokoh yang tidak akan pernah menjadi nyata sepertimu.

Nathan…
Tidak dapat dipungkiri aku membutuhkan mimpi. Tetapi yang aku butuhkan lebih dari mimpi adalah kenyataan. Dia benar-benar ada di depan mataku, Nath. Dia bisa kusentuh. Dia benar-benar nyata! Aku membutuhkannya saat ini. Aku membutuhkannya sebagai temanku, sebagai tempatku bersandar, dan sebagai bagian dari kehidupan nyataku.

Terima kasih kamu telah menjadi bagian dari mimpiku. Maafkan aku atas semua ini…. Suatu saat akan kubuat kamu bersanding dengan kenyataan di dalam mimpiku dengan wanita yang paling sempurna, Nath. Aku berjanji.

Too Much Affection

Menjadi anak rantau adalah efek samping dari sebuah pilihan menuntut ilmu. Dengan cepat kehidupan akan berubah. Mau tak mau seorang anak rantau harus menyesuaikan diri dengan cepat. tak ada lagi yang kebiasaan ‘tidur di bawah ketiak mama’. Dari alarm orang tua menjadi alarm handphone.

Bukanlah hal yang mudah memang ketika menemui rutinitas baru dengan kesibukan yang berbeda dan berlipat ganda dari sebelumnya. Kaget pasti ada, baik kaget secara fisik maupun mental. Lelah, pusing dalam tanda petik, bosan, sedih, ketawa, semuanya pasti pernah dirasakan anak rantau di bulan pertama. Beberapa dari mereka menyesal, namun sebagian besar dari mereka tidak. Terlalu banyak alasan untuk tidak menyesal. Salah satunya adalah tentang kasih sayang.
Berbicara tentang kasih sayang, tak dapat disangkal bahwa anak rantau pasti merasa kekurangan kasih sayang dari keluarga karena ubungan dengan orang tua yang kini mirip LDR… Kasih sayang dari pasangan juga mungkin tak sekuat dulu lagi, apalagi anak rantau itu benar-benar LDR dan masih berusia labil. Hal itu sama sekali bukan masalah.
Aku sudah membuka pikiranku seluas mungkin dan menyadari satu hal. Semakin berat perjuanganmu, aku, dan kita di sini, kasih sayang yang didapat akan semakin banyak.
Pernahkah berpikir ketika mempunyai seratusan lebih sosok teman sekaligus kakak? Tanpa kamu minta, seratusan lebih dari jumlah mereka akan memberikan kasih sayangnya cuma-cuma!
Butuh sesuatu? Chat atau telepon saja mereka.
Butuh teman curhat? Chat atau telepon saja mereka.
Mereka pasti membantu kok. Dengan senang hati malah, tentunya dengan sedikit perasaan direpotkan. hehe

Percayalah padaku, di sini kamu tidak akan kekurangan kasih sayang.
Wadah penampung kasih sayang yang sudah kamu siapkan masih kurang untuk menampung luberan kasih sayang mereka.
Tersenyumlah dan ayo kita saling memberi kasih sayang!

That Love Does Exist

Pagi itu aku melihat burung-burung bertengger dengan kicaunya yang saling bersahutan. Di bawah bangunan tinggi yang mulai dimakan usia, pohon-pohon rindang bertumbuhan. Semilir angin dengan sigapnya menyejukkan siapapun di taman bundar itu.

Suasana pagi itu cukup ramai. Panggung lengkap dengan dekorasinya ada di lapangan sisi barat taman bundar. Tak biasanya, mungkin sedang ada acara. Ah iya, hari ini graduation day bukan? Ketika angkatan teratas sudah waktunya meninggalkan kampus tercinta.

Kami sebagai angkatan termuda yang baru berumur beberapa minggu turut serta memeriahkan acara itu. Bagian yang sedikit menyebalkan (menurutku) menjadi tanggung jawab kami, yaitu bersih-bersih. Namun kami yang memang belum kenal semuanya tak canggung untuk saling ketawa ketiwi hahahihi. Kentara sekali momen kami sebagai mahasiswa baru yang saling berkenalan. Bertanya nama hingga berkali-kali namun tak juga hapal. Lucu, tapi seru…

Kami mengabsen siapapun yang lewat atau yang sedang duduk memenuhi panggung. Saat itu, aku menemukannya. Dia dengan suara khasnya dan mata tenangnya. Kesan pertama saat berkenalan dengannya adalah dia orang yang cukup menarik. Sayangnya saat itu aku tak terlalu memikirkannya.

Hari berganti hari. Aku mulai menikmati kesibukanku yang baru. Rutinitas ini itu benar-benar menguras pikiranku. Aku bahkan lupa untuk mengingatnya lagi.

Hingga rumput-rumput yang seingatku dulu tidak ada kini mulai bertumbuh. Aku menikmati waktu beberapa menitku di taman bundar yang rindang ini. Menikmati sepoi-sepoi angin dari arah barat. Aku menghela napas… Menenangkan pikiranku.

Aku melihatnya lagi. Dia tengah tersenyum… Manis sekali.
Dengan mata yang benar-benar terbuka, aku benar-benar melihatnya!
Aku mengamatinya selama dia masih berada di medan pandangku.
Tak sulit untuk menyimpulkan bahwa dia memang berbeda dengan yang lainnya. Aku tersentuh dengan kebaikan hatinya, ketenangan bicaranya, keteduhan di matanya, semuanya…

Perjalananku di sini masih jauh. Waktuku untuk melihatnya masih sangat panjang. Aku bisa mengaguminya selama aku berada di sini. Aku akan selalu berada di balik keramaian untuk melihatnya.

Dia tahu atau tidak, aku tak peduli. Aku tak menginginkan sesuatu yang lebih. Cukup menjadi teman yang baik dan aku bisa melihatnya, itu cukup, lebih dari cukup malah.

Hanya satu hal tidak pasti yang aku pikirkan dari tadi,
Maybe that love does exist. Maybe…

Surabaya, 28 Oktober 2014

Aku di Persimpangan

Ini adalah postingan pertamaku tentang sebuah keragu-raguan. Tentang diriku, tentang duniaku, tentang masa depanku. Sebelumnya aku minta maaf karena ini bukan posting yang positif. Aku hanya ingin menceritakan sedikit tentang diriku yang lain.

Here we go.

Akhirnya aku sampai juga di kota tujuanku, Surabaya. Kedatanganku jauh lebih awal daripada yang diperlukan. Bersama ibuku, aku mencari-cari lokasi tujuanku. Keluar masuk gang satu dengan gang lain, hingga aku menemukan rumah bertingkat itu.

Bukan rumah mewah yang biasa dikomplek perumahan elit, melainkan rumah bertingkat bisa. Ya, biasa. Tidak terlalu bagus, namun sangat layak untuk di huni. Rumah bercat hijau di pojokan gang itulah tujuanku.

Semakin melangkah, perasaan aneh muncul di benakku. Saat itu aku biasa saja, membiarkan tanpa berpikir macam-macam. Aku pergi ke kamar yang ditunjukkan kakak berkerudung cokelat. Kamar inilah yang akan menjadi kamar sementaraku sampai seluruh maba yg terdaftar berkumpul. Kamar berukuran 3×4 cukup untuk diriku yang tak seberapa besar dan satu orang lagi yang seharusnya berukuran tubuh sama denganku. Fasilitas standar seperti almari, kipas angin, meja belajar, dan spring bed telah tersedia.

Ah, kenapa perasaan aneh itu kembali muncul?

Beberapa jam kemudian, setelah aku tidur beberapa saat di kamarku, aku mengantar ibuku ke jalan raya untuk menanti angkot. Tak rela rasanya ditinggal ibuku. Padahal aku sudah sering ditinggal/meninggalkan ibuku. Setelah ibuku mendapat angkot yang dikehendaki, aku pun berbalik badan untuk pulang. Setiap satu langkah, perasaan itu semakin besar.

Hari bertambah hari. 2 hari sudah aku disini, namun aku merasakan perasaan itu semakin menjadi-jadi. aku berharap sangat besar bahwa ini hanya sekedar homesick. A kind of pain and a kind of process.

“Pain demands to be felt.” ~The Fault in Our Stars

Entah ini hanya perasaanku saja atau memang ada dorongan kuat dari diriku. Aku merasa seperti ragu-ragu. Benarkah aku akan berada di sini 3 tahun? Sudah yakinkah aku? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus saja bermunculan. Kini di setiap doaku kusisipkan permohonan tentang hal ini.

Bila memang di tempat ini jalanku dan yang terbaik untukku, aku meminta keteguhan dan kemantapan hati. Semoga aku terhindar dari keraguan. Namun bila ada tempat lain yang lebih baik untukku, aku meminta petunjukMu Yaa Rabb untuk membawaku ke sana.

Sebenarnya aku tidak memiliki alasan untuk mundur, karena tempat ini sudah sangat bagus. Dengan lingkungan yang baik, fasilitas memadai, membuatku semakin dilema. Perasaan itu… perasaan itu kian kuat menggangguku.

Aku tidak tahu mau kemana aku. Terus maju di jalan ini atau terus maju di tikungan yang lain? Entahlah. Aku belum menentukan pilihan. Semoga Allah memantapkan hatiku dan memberi petunjukNya.

Surabaya, Agustus 2014

Saya Makan Uang Rakyat!

uangrakyatSesuai dengan judul di atas, saya memang orang yang doyan makan uang rakyat. Sejak kecil saya terbiasa menyantap uang rakyat. Eits, tunggu sebentar. Perlu saya luruskan bahwa saya bukan seorang koruptor dan bukan bagian dari keluarga koruptor.

Kebiasaan makan uang rakyat muncul kurang lebih ketika saya duduk di SLTP. Dihh, masih kecil udah doyan makan uang rakyat. Haha

Sejak SLTP saya sering mendapat bantuan, keringanan uang sekolah, dan beasiswa. Dari mana asalnya? Dari sekolah dan pemerintah. Sekolah dan pemerintah dapat uang dari mana? Ya dari uang rakyat!

Berlanjut ketika SMA. Saya kembali mendapat keringanan biaya sekolah. Sekali lagi, saya makan uang rakyat.

Saat lomba beberapa waktu lalu, hadiah yang saya terima, makanan enak, dan hotel berbintang semua dibiayai APBN. Dari mana asalnya? Uang Rakyat!

Makanan lezat 3x sehari, coffeebreak 2x sehari, outbound, dan susu ultr*m*lk gratis selama sebulan pelatnas dibiayai siapa? Uang rakyat juga!

Tidak berhenti sampa di situ. Kuliah 4 tahun ke depan, insyaAllah saya juga akan makan uang rakyat. Termasuk asrama dan pembinaan lainnya yang berasal dari sedekah rakyat.

Hmm… sepertinya saya sudah cukup gendut karena terlalu banyak makan uang rakyat. Tapi sekali lagi saya menegaskan: saya bukan koruptor!

Iya, saya ingat saya selalu makan uang rakyat.
Saya ingat kok bahwa saya hidup dari pajak petani miskin dan nelayan pinggiran.
Saya akan selalu ingat itu…

Saya bukan bangga karena selalu makan uang rakyat, tapi saya hanya ingin mengingatnya.

Makan dari uang rakyat itu enak. Saya tidak perlu lagi memikirkan banyak hal. Saya tidak perlu pontang-panting ke sana kemari hanya untuk mencari biaya sekolah dan kuliah, karena rakyat sudah menjamin kehidupan saya.

Di sisi lain, makan dari uang rakyat menjadi beban tersendiri. 3 kata yang paling tepat untuk menyebutkan jenis bebannya adalah Beban Hutang Budi. Masa sih saya yang sudah gendut dan sehat dari uang rakyat tidak mampu berkontribusi untuk rakyat?

Yang saya mau di masa depan kurang lebih seperti ini: Dulu Novita kecil selalu disuapi uang rakyat, sekarang Novita dewasa telah dan harus mampu memberi makan untuk rakyat.

Suatu balas budi yang masih klise, tapi cukup untuk membuat saya tetap maju, setidaknya sampai hari ini. Ya, memang beban yang cukup berat bagi saya. Tapi itulah yang saya butuhkan. Beban yang bisa memberi motivasi bagi saya untuk berbuat lebih dari orang lain.

Jangan harap saya akan berhenti makan uang rakyat! Saya akan terus makan uang rakyat yang telah menjadi makanan favorit saya. Bahkan mungkin saja saya akan menjadi lebih rakus. Saya akan berjuang untuk mendapatkan beasiswa, sehingga saya bisa puas makan uang rakyat.

 

Madiun, Juli 2014

tertanda

Novita