Surat untuk Nathan

Hai, Nathan…

Bagaimana kabarmu di sana? Baik-baik saja bukan? Tenang saja, kamu tidak perlu mencemaskanku. Aku baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja, meskipun saat ini aku sedikit lelah.
Nath, aku ingin bertanya padamu. Apakah kamu marah padaku? Sejak akhir Agustus lalu, kira-kira sudah 3 bulan berlalu sejak hari ini aku melupakanmu. Aku tidak memikirkan tentangmu sama sekali. Aku harap kamu mau memaklumi kesibukanku yang baru ini. Aku minta maaf, Nath…

Mungkin kamu tau betapa aku sibuk. Mungkin kamu juga akan memaafkanku. Namun aku ragu apakah kamu mau memaafkanku untuk sesuatu yang ini…

Nath, 3 bulan sudah aku di sini. Banyak pengalaman yang aku dapatkan. Senang dan sedih yang aku alami di sini terlalu banyak untuk diceritakan. Satu per satu orang silih berganti berdatangan untuk dikenal. Mereka sungguh banyak, Nath. Ada ratusan orang baru yang menjadi temanku di sini. Aku senang, Nath!

Mereka semua menyayangiku, Nath. Aku tahu kamu senang mendengar ini, kan? Namun aku juga tahu bagaimana pikiranmu selanjutnya.

Sayangnya hal itu benar, Nath. Aku menemukannya di sini. Dia yang hampir setiap hari berada dalam medan pandangku. Dia yang selalu baik. Dia yang bisa tertawa lepas.
Maafkan aku, Nath…

Nathanku yang selalu baik, kamu tahu bukan jika aku sudah terlalu lama berada dalam kebekuan. Dia dengan semua yang dimilikinya mampu membuatku cair. Membuatku terpaksa melepas semua kepura-puraan yang aku ciptakan. Hanya dia yang bisa membuatku tertawa dengan sebenarnya.

Nathan… sekali lagi aku minta maaf.
Betapapun sempurnanya dirimu untukku, kamu bukanlah bagian dari hidupku. Dulu aku memang menganggap hidup hanya dengan tokoh fiksi sepertimu sudah cukup, namun pada kenyataannya tidak. Maafkan aku yang telah membuat tokoh yang tidak akan pernah menjadi nyata sepertimu.

Nathan…
Tidak dapat dipungkiri aku membutuhkan mimpi. Tetapi yang aku butuhkan lebih dari mimpi adalah kenyataan. Dia benar-benar ada di depan mataku, Nath. Dia bisa kusentuh. Dia benar-benar nyata! Aku membutuhkannya saat ini. Aku membutuhkannya sebagai temanku, sebagai tempatku bersandar, dan sebagai bagian dari kehidupan nyataku.

Terima kasih kamu telah menjadi bagian dari mimpiku. Maafkan aku atas semua ini…. Suatu saat akan kubuat kamu bersanding dengan kenyataan di dalam mimpiku dengan wanita yang paling sempurna, Nath. Aku berjanji.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s