That Love Does Exist

Pagi itu aku melihat burung-burung bertengger dengan kicaunya yang saling bersahutan. Di bawah bangunan tinggi yang mulai dimakan usia, pohon-pohon rindang bertumbuhan. Semilir angin dengan sigapnya menyejukkan siapapun di taman bundar itu.

Suasana pagi itu cukup ramai. Panggung lengkap dengan dekorasinya ada di lapangan sisi barat taman bundar. Tak biasanya, mungkin sedang ada acara. Ah iya, hari ini graduation day bukan? Ketika angkatan teratas sudah waktunya meninggalkan kampus tercinta.

Kami sebagai angkatan termuda yang baru berumur beberapa minggu turut serta memeriahkan acara itu. Bagian yang sedikit menyebalkan (menurutku) menjadi tanggung jawab kami, yaitu bersih-bersih. Namun kami yang memang belum kenal semuanya tak canggung untuk saling ketawa ketiwi hahahihi. Kentara sekali momen kami sebagai mahasiswa baru yang saling berkenalan. Bertanya nama hingga berkali-kali namun tak juga hapal. Lucu, tapi seru…

Kami mengabsen siapapun yang lewat atau yang sedang duduk memenuhi panggung. Saat itu, aku menemukannya. Dia dengan suara khasnya dan mata tenangnya. Kesan pertama saat berkenalan dengannya adalah dia orang yang cukup menarik. Sayangnya saat itu aku tak terlalu memikirkannya.

Hari berganti hari. Aku mulai menikmati kesibukanku yang baru. Rutinitas ini itu benar-benar menguras pikiranku. Aku bahkan lupa untuk mengingatnya lagi.

Hingga rumput-rumput yang seingatku dulu tidak ada kini mulai bertumbuh. Aku menikmati waktu beberapa menitku di taman bundar yang rindang ini. Menikmati sepoi-sepoi angin dari arah barat. Aku menghela napas… Menenangkan pikiranku.

Aku melihatnya lagi. Dia tengah tersenyum… Manis sekali.
Dengan mata yang benar-benar terbuka, aku benar-benar melihatnya!
Aku mengamatinya selama dia masih berada di medan pandangku.
Tak sulit untuk menyimpulkan bahwa dia memang berbeda dengan yang lainnya. Aku tersentuh dengan kebaikan hatinya, ketenangan bicaranya, keteduhan di matanya, semuanya…

Perjalananku di sini masih jauh. Waktuku untuk melihatnya masih sangat panjang. Aku bisa mengaguminya selama aku berada di sini. Aku akan selalu berada di balik keramaian untuk melihatnya.

Dia tahu atau tidak, aku tak peduli. Aku tak menginginkan sesuatu yang lebih. Cukup menjadi teman yang baik dan aku bisa melihatnya, itu cukup, lebih dari cukup malah.

Hanya satu hal tidak pasti yang aku pikirkan dari tadi,
Maybe that love does exist. Maybe…

Surabaya, 28 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s