Aku di Persimpangan

Ini adalah postingan pertamaku tentang sebuah keragu-raguan. Tentang diriku, tentang duniaku, tentang masa depanku. Sebelumnya aku minta maaf karena ini bukan posting yang positif. Aku hanya ingin menceritakan sedikit tentang diriku yang lain.

Here we go.

Akhirnya aku sampai juga di kota tujuanku, Surabaya. Kedatanganku jauh lebih awal daripada yang diperlukan. Bersama ibuku, aku mencari-cari lokasi tujuanku. Keluar masuk gang satu dengan gang lain, hingga aku menemukan rumah bertingkat itu.

Bukan rumah mewah yang biasa dikomplek perumahan elit, melainkan rumah bertingkat bisa. Ya, biasa. Tidak terlalu bagus, namun sangat layak untuk di huni. Rumah bercat hijau di pojokan gang itulah tujuanku.

Semakin melangkah, perasaan aneh muncul di benakku. Saat itu aku biasa saja, membiarkan tanpa berpikir macam-macam. Aku pergi ke kamar yang ditunjukkan kakak berkerudung cokelat. Kamar inilah yang akan menjadi kamar sementaraku sampai seluruh maba yg terdaftar berkumpul. Kamar berukuran 3×4 cukup untuk diriku yang tak seberapa besar dan satu orang lagi yang seharusnya berukuran tubuh sama denganku. Fasilitas standar seperti almari, kipas angin, meja belajar, dan spring bed telah tersedia.

Ah, kenapa perasaan aneh itu kembali muncul?

Beberapa jam kemudian, setelah aku tidur beberapa saat di kamarku, aku mengantar ibuku ke jalan raya untuk menanti angkot. Tak rela rasanya ditinggal ibuku. Padahal aku sudah sering ditinggal/meninggalkan ibuku. Setelah ibuku mendapat angkot yang dikehendaki, aku pun berbalik badan untuk pulang. Setiap satu langkah, perasaan itu semakin besar.

Hari bertambah hari. 2 hari sudah aku disini, namun aku merasakan perasaan itu semakin menjadi-jadi. aku berharap sangat besar bahwa ini hanya sekedar homesick. A kind of pain and a kind of process.

“Pain demands to be felt.” ~The Fault in Our Stars

Entah ini hanya perasaanku saja atau memang ada dorongan kuat dari diriku. Aku merasa seperti ragu-ragu. Benarkah aku akan berada di sini 3 tahun? Sudah yakinkah aku? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus saja bermunculan. Kini di setiap doaku kusisipkan permohonan tentang hal ini.

Bila memang di tempat ini jalanku dan yang terbaik untukku, aku meminta keteguhan dan kemantapan hati. Semoga aku terhindar dari keraguan. Namun bila ada tempat lain yang lebih baik untukku, aku meminta petunjukMu Yaa Rabb untuk membawaku ke sana.

Sebenarnya aku tidak memiliki alasan untuk mundur, karena tempat ini sudah sangat bagus. Dengan lingkungan yang baik, fasilitas memadai, membuatku semakin dilema. Perasaan itu… perasaan itu kian kuat menggangguku.

Aku tidak tahu mau kemana aku. Terus maju di jalan ini atau terus maju di tikungan yang lain? Entahlah. Aku belum menentukan pilihan. Semoga Allah memantapkan hatiku dan memberi petunjukNya.

Surabaya, Agustus 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s