The Admirer

Suatu hari itu adalah hari Senin. Ya, hari Senin. Sebuah hari yang tidak spesial, namun mampu membuatku menantikannya setiap hari.

Hari Senin.
Hari dimana aku mengampil tempat duduk yang terdepan, yang paling dihindari oleh siswa manapun.

Hari Senin.
Hari ketika diriku begitu ingin melihat lapangan basket dengan medan pandang lebih dari biasanya.

Hari Senin.
Hari ketika aku bisa melihatmu lebih dari yang aku butuhkan.

Hei, itu kamu! Ya, itu kamu!

Aku menemukanmu. Kau tengah berjalan di tepi garis lapangan, diseberang sana, terlihat terengah-engah. Rambut hitammu terlihat basah. Kilapan keringat bercampur minyak di wajah dan kulitmu, membuatmu berkilau. Mungkin dirimu mirip pahatan porselen yang nyaris sempurna. Hanya saja dirimu hidup.

Saat itu aku seperti tak mendengar apa-apa. Tak seorangpun yang mengeluarkan suara. Entah apakah bernar-benar tak ada yang bersuara, atau aku yang menuli seketika.

Yang kulihat saat itu hanyalah dirimu.

Keren…

Aku tidak tau yang membuatku hanya memandangmu. Aku tidak mengerti kamu bisa mengosongkan diriku untukmu. Apakah ini karena aku tak mampu mengendalikan nafsuku terhadap dirimu yang nyaris sempurna? Atau kepribadianmu yang luar biasa? Mungkin saja. Namun ada satu hal yang benar-benar aku yakini, bahwa ini lebih dari sekedar itu. Ini bukan hanya sesuatu yang dapat dilihat atau didengar. Tetapi ini lebih dalam, lebih tersembunyi, lebih tulus.

Aku menyukai semua tentangmu, sekaligus membenci semua tentangmu. Cara berpakaianmu, cara berjalanmu, cara tersenyummu, dan cara-caramu yang lain, aku benar-benar menyukainya. Itulah yang membuatku jatuh terlalu dalam padamu, dan aku membencinya.

Seperti bintang, aku menyukaimu. Karena dirimu adalah penenangku ketika gelap.

Seperti bintang, aku membencimu. Karena aku harus puas dengan mengagumimu tanpa bisa mendekat sedikitpun padamu.

Kamu membuatku sesak, sulit bernapas. Membuatku terlumpuhkan, lalu terbangkitkan. Kamu membuatku merasa tersembuhkan, lalu tersakitkan.

Seribu alas an sudah kumiliki untuk pergi darimu. Tapi aku hanya punya satu alas an bodoh untuk bertahan padamu, yaitu aku membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu untuk membuatku tetap hidup.

Katakanlah aku gila, yang selalu berpihak padamu. Yeah, aku tau semua ini takkan berpihak padaku. Aku hanyalah seorang pengagum yang tidak berhak atas apapun dalam dirimu. Aku bahkan tidak berhak untuk membuatmu sekedar tau siapa aku. Kamu adalah impian. Sedang aku? Aku hanya pengagum.

Waktu telah bergulir. Tak terasa detik demi detik berlalu hingga akhir Mei 2013.

2 tahun sudah aku mengagumimu. Tidak, aku tidak hanya sekedar mengagumimu, tapi aku mencintaimu. Diam-diam dan tanpa syarat.

Pesta terakhirmu di kota ini sudah didepan mata. Kulihat bayangan wajahmu bersama mereka, teman-teman sekelasmu, dari layar computer. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Tak sengaja akupun terisak.

Wajahmu saat itu terlihat ceria. Senyum ramahmu tersebar di setiap bingkai maya. Senyum mematikan yang membuatku luluh, melebur seperti lelehan keju. Tapi sorot tajammu tidak demikian. Kedua mata itu mengisyaratkan batas yang tak kentara antara kepedihan dan kegembiraan. Antara akan menempuh fase baru dan sebuah perpisahan.

Ingin rasanya aku menjadi salah satu anggota dari remaja bertoga dalam foto itu. Aku ingin merasakan rasanya sedekat itu denganmu, mendengar suara berat nan lembut itu setiap hari, dan melihat wajah tenangmu setiap saat. ah, tidak. Kupikir aku tidak akan mau menjadi temanmu. Karena aku tidak yakin aku akan merasakan suatu hal yang sama dengan 2 tahun lalu, kemarin, hari ini,dan esok.

Setahun setelah pesta itu…

Setahun sudah sejak terakhir kali aku melihatmu.

Hari ini, aku menerima sepucuk surat resmi yang sangat kunantikan. Kubuka amplop putih itu dengan bergetar, tubuhku terasa dingin. Aku, Carine Auriga, diterima di Fakultas Teknik Industri (Teknik Kimia) ITS!! Aku berteriak sejadi-jadinya. Tak peduli sekeras apapun suaraku, entah mungkin saja pita suaraku bisa putus saat ini.

Aku berhasil memotivasi diriku sendiri tanpamu.

Disinilah aku sekarang. Berdiri di gedung yang sama denganmu. Kembali menjadi seorang pengagum.

—————————————————————————————————————————————————————

Baiklah, mungkin cerita ini berlebihan… aku yakin tak ada seorangpun yang seperti itu. Apa? Ada? Oh, come on dear. Untuk apa mengagumi orang berlebihan seperti cerita diatas? Apa kamu diuntungkan? TIDAK. Apa kamu lelah? Ya. Ayolah, move on!

Untuk para fans fanatik juga. Walaupun idolamu adalah seorang yang cantik, ganteng, seksi, almost perfect, tapi untuk apa kamu membuang uang demi mereka? Jika hanya membeli album mereka, bolehlah. Itu namanya menghargai karya orang lain. Menonton konser sesekali, tak masalah. Itu namanya ingin melihat suatu karya seni. Tapi jika sampai mengoleksi merchandise, membayar mahal hanya untuk salaman, menghafal fan chant dan berteriak gila, untuk apa? Itu hanya SIA-SIA. Ayolaahh… move on! Itu semua tak ada artinya.

Jadilah seorang pengagum yang biasa saja. Mengagumi karya orang lain karena pikiran dan kerja kerasnya, bukan mengagumi tubuh indahnya!

Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s