All about Us, All about Science One

Menjadi bagian dari IPA 1 bukanlah hal yang kami duga, tetapi juga bukan sesuatu yang mengagetkan. 2 tahun lalu, kami disatukan menjadi sebuah keluarga tanpa ikatan darah. Keluarga besar dengan 29 anggota.

Kami bukanlah kumpulan orang-orang pintar, kami bukanlah orang-orang jenius, dan kami bukanlah orang-orang dengan bakat-bakat mengesankan. Kami hanya orang-orang biasa yang akan mengubah dunia suatu saat nanti. Kami adalah calon orang-orang hebat. Kami adalah calon-calon pemimpin dunia.

Menjadi orang hebat bersama-sama tidaklah mudah. Kami berjuang. Menembus dinginnya pagi, dan kembali kerumah di ketika nyaris senja. Beberapa dari kami hanya pulang ke rumah hanya di penghujung minggu.

Beberapa waktu yang lalu… Satu, dua, tiga, empat, mungkin semua guru mengeluh akan kediaman kami sebagai keluarga. Kami diam bukanlah karena mengerti, tetapi karena kami tidak tau apa-apa. Kami bertekad untuk merubahnya, hingga kini kami masih berusaha merubahnya. Kami berusaha menahan lelah dan kantuk, terutama di jam-jam pelajaran terakhir. Hargailah usaha kami!

Nyaris separuh hari kami habiskan bersama. Tapi kami bukanlah keluarga yang solid! Kami bukanlah keluarga yang suka bersorak dan menampakkan keharmonisan kami. Kami bukanlah keluarga yang baik-baik saja.

Beberapa dari kami sangat baik. Saling mendukung satu sama lain. Saling mengajari. Saling mensejajari. Saling menguatkan. Tidak saling menjatuhkan.

Beberapa dari kami hanyalah orang-orang egois. Individualistis. Hidup dalam dunianya sendiri-sendiri.

Hampir semua dari kami berusaha menjadi yang terbaik. Dengan nilai yang baik, dengan ilmu yang baik, berharap mempunyai masa depan yang baik.

Beberapa dari kami terobsesi dengan nilai. Nilai sempurna adalah 100. Nilai buruk adalah ketika remidi. Kegembiraan adalah ketika guru salah menghitung, sehingga nilai kami bertambah, entah walaupun itu hanya naik 1 digit satuan. Beberapa dari kami hanya memperdulikan nilai, bukan ilmu.

Hampir semua dari kami adalah orang-orang munafik. Kami membicarakan seseorang diantara kami dibelakangnya. Dan seseorang yang lain dibelakangnya. Kami melihat betapa serunya mengorek kekurangan orang lain, yang bahkan kami sendiri jauh lebih buruk daripada orang yang kami bicarakan. Kami terlalu pengecut untuk mengungkapkan ‘unek-unek’ kami secara langsung.

Kami mungkin tidak layak disebut keluarga. Kami hanyalah kumpulan orang-orang pengecut.

Hampir semua dari kami telah jenuh. Kami lelah belajar setiap hari. Kami capek terus-terusan meraih nilai. Kami ingin berhenti, benar-benar berhenti dari rutinitas ini, tanpa bayang-bayang nilai rapor atau ujian atau PTN, sebentar saja…

Namun apapun keadaan kami, bagaimanapun kehidupan kami sebagai keluarga, kami bangga menjadi bagian dari IPA 1. Ketika kami jenuh, kami mengingat kebersamaan kami ketika jam istirahat. Kami ingat satu-satunya yang membuat kami bertahan adalah keluarga kami, keluarga besar IPA 1.

Kenangan-kenangan 2 tahun ini, takkan mudah untuk dilupakan.

Joy
Sad
Test
Homework
Love
Cheat
Music
Togetherness
We are ONE
We are ISTANA
We are “IPA SATU TAAT AGAMA DAN NEGARA”

 

Nov,
17th member of XIIA1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s