Aku Tidak Sempat Mengeluh

“Duhh.. ini sulit…”

“duhh.. aku tidak bisa..”

“aduhh, banyak sekali sih tugasnya!”

“Gurunya tidak berperasaan…”

Etc…

 

Beberapa bulan lalu, sebelum aku sesibuk sekarang, aku sering mengucapkan kalimat-kalimat keluhan itu. Dulu aku hanyalah seorang pelajar biasa yang tak seberapa bersyukur terhadap hidup. Aku hanya bisa merutuk dan mengeluh. Tapi sekarang tidak lagi… Aku berusaha untuk tidak lagi…

Sama seperti sekolah yang lain, kegiatan belajar mengajar mulai pukul 06.45 hingga 14.15 WIB. Karena aku sekarang sudah kelas 3, jam belajarpun ditambah guna persiapan UN. Intensif Belajar (IB) hampir selalu ada setiap Senin, Selasa, dan Rabu. IB sukses membuat jam pulangku menjadi paling cepat pukul 17.15.Sekedar info saja jika tidak ada libur di hari Sabtu. Jam sekolah ternyata melebihi jam kerja pegawai ya? Itu belum termasuk beban tugas dan ulangan yaaa…

Ah, mengeluh memang kegiatan paling mengasyikkan di saat sibuk seperti itu.

Kemudian aku harus ke Bandung selama sebulan. Glek… aku hanya menelan ludah ketika melihat jadwal ‘gila’ku disini. Kegiatan harian dari pukul 8 pagi hingga 9 malam. Kalau observasi bisa jadi sampai lewat tengah malam. Tiap malam Sabtu ke Bosscha sampai subuh. Cukup berat? Ya… tapi akan lebih berat lagi dengan tes mingguan dan tugas dari dosen.

Sekali lagi, mengeluh menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan.

Sebulan yang seharusnya lama menjadi sangat singkat. Di akhir waktu sebulanku aku menyadari jika aku lebih sedikit mengeluh daripada yang aku bayangkan ketika di awal. Aku bukan tidak mau mengeluh, tapi aku tidak sempat mengeluh. Aku terlalu sibuk untuk meluangkan waktu untuk mngeluh. Setiap saat ada saja yang aku kerjakan. Entah itu tugas disini atau sekedar mencicil tugas sekolah. Hingga akhirnya aku menikmati kesibukanku. Saat itu, aku bahkan lupa bagaimana caranya mengeluh…

Sebulan telah selesai. Aku kembali ke sekolah. Ke kehidupan nyataku.

Seperti yang kuduga, aku jau lebih sibuk dari sebelumnya. Tugas-tugasku… mereka seolah berebut untuk aku kerjakan. Tugas yang aku bawa ke Bandung saja belum selesai, ditambah tugas baru lagi dan baru lagi dan baru lagi…

Tugas 3Ds max, tugas biologi, tugas Bahasa Indonesia, tugas seni rupa, dan tugas-tugas minor lainnya cukup membuatku bingung mana yang harus aku kerjakan terlebih dahulu. Aku juga harus mengejar pelajaran sebulan hanya dalam 1 minggu, dan otodidak. Persiapan UAS juga penting, mengingat ini perjuangan terakhirku untuk mendapat nilai rapor sebaik mungkin.

Aku tidak ingin meminta keringanan tugas atau ulangan. Karena entah sejak kapan aku benar-benar menikmati tugas yang diberikan. Tugas dan ulangan itu sudah menjadi resikoku, menjadi tanggunganku, aku tidak berhak mendapat pengurangan. Boleh terlambat mengumpulkan tugas sehari, 2 hari, atau 3 hari saja sudah lebih dari cukup bagiku. Aku tidak mau keenakan bersantai. Aku tidak mau menjadi anak manja. Aku tidak mau menjadi seorang yang meminta-minta. Aku tidak mau memberi waktu bagi diriku sendiri untuk mengeluh.

Aku ingin mengeluh. Tapi aku menahannya. Waktu untuk mengeluh tidak akan lebih baik daripada istirahat, percayalah… aku juga tidak mau membiasakan mulutku untuk mengeluh.

Berapa waktu yang kamu habiskan untuk mengeuh? 5 menit? 10 menit? 1 jam? Seharian?

Apa yang bisa kamu lakukan jika waktu untuk mengeluh digunakan untuk hal lain? Kamu bisa menulis setengah halaman buku atau bahkan menyelesaikan sebuah tugas ringan.

Begini… bungkam mulutmu ketika ingin mengeluh. Lakukan apapun yang bisa dilakukan selain mengeluh. Kerjakan dan kerjakan. Percayalah, kamu akan lupa dengan keluhanmu. Bahkan kamu bisa menikmati pekerjaanmu.

Capek? Tentu.

Capek adalah efek samping dari usaha. Sedangkan kepuasan adalah konsekuensi dari usaha. Kepuasan akan menghilangkan rasa capek.

Bosan? Pasti.

Lakukan hal lain. Seperti berjalan-jalan, keluar melihat langit mungkin. Atau sekedar membayangkan ketika pekerjaanmu selesai dan kamu tersenyum puas.

Jadi, masih mau mengeluh?

 

 “Seorang pelaut ulung tidak dilahirkan dari lautan yang tenang.”

——————————————————————————————

“Tuhanku, aku mohon agar putraku jangan dipimpin di atas jalan yang mudah dan lunak, tapi pada jalan di bawah tekanan, kesulitan, dan tantangan. Bentuklah putraku supaya teguh dan selalu tegak diatas karang yang tajam maupun di bawah hantaman badai yang menerpa.” –Doa Jenderal Mac Arthur ketika akan maju ke medan perang-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s