Don’t Take Away My Love, Please

Don’t Take Away My Love, Please (SJ FF) oneshot

oleh Cho Ufa pada 31 Maret 2011 pukul 17:33 ·

Genre       :     Sad romance

Rating       :     PG13

Cast           :     Me/Author, Donghae Super Junior

Length      :     One shot

Author      :     Saufa Syarrama

 

TAKE OUT WITH FULL CREDIT!!^^

 

Author’s POV

Aku duduk disini. Sendiri. Sepi. Bertemankan kunang-kunang  yang terbang kesana kemari. Bertemankan katak-katak  yang  melompat-lompat  di  sekeliling rawa ini.

 

Dan hanya itu.Selain riak air dan suara daun yang bergoyang tertiup angin.Tak ada yang lain. Aku mencoba bersuara. Mencoba memanggil mereka. Mencoba berbicara pada mereka. Ingin tahu, apa yang mereka pikirkan.

 

Namun, hanya angin yang keluar dari tenggorokanku. Aku berusaha berteriak. Namun, tetap hanya suara riak air dan daun-daun yang tertiup angin yang terdengar. Air mataku pun jatuh. Mengalir deras. Tanpa suara aku menangis.

 

Kucoba melihat keseberang. Hanya ada kabut putih dan siluet bangunan yang terasa kabur. Aku yakin disana banyak perumahan. Aku bisaa bermain di sana waktu kecil dulu. Sekarang aku bahkan lupa seperti apa perumahan itu. Aku yakin bentuknya sangat mewah. Dan sekarang aku tak bisa mengingat apa-apa.

 

Aku kembali menangis. Mencoba menggerakkan tanganku. Walau terasa sakit, aku tetap memaksakannya. Kuletakkan kedua tanganku  di  kedua sisi kursi  yang  tengah aku duduki. Menyentuh kedua roda  yang  menopang kursi itu. Kugerakkan roda itu sedikit,  sehingga aku bisa maju dan melihat lebih jelas lagi apa  yang  ada di seberang sana.  Namun,  saat aku mencapai tepi rawa,  penglihatanku tetap saja kabur. Aku merutuk

 

TIDAK ADIL!

 

TUHAN BENAR-BENAR TIDAK ADIL!

 

Betapa teganya Dia, memberi cobaan seperti ini padaku. Aku hanya ingin menikmati hidup,  bukannya terkurung dalam tubuh lemah ini. Aku ingin berlari, bukannya hanya diam seperti ini. Aku hanya ingin bernyanyi, bukannya bisu seperti ini.

Tak terhitung berapa banyak air mata yang keluar. Aku hanya bisa menangis. Mencoba tabah dan sabar. Ingin segera berakhir. Menutup mataku, dan takkan pernah membukanya lagi..

 

Donghae’s POV

Pandanganku kabur. Mataku basah. Entah berapa lama aku duduk disini, di mobil ini, mengingat kenangan dulu, bertahun-tahun yang lalu. Kenangan yang sangat indah.

 

Aku duduk disini, menatap kosong pada mobil yang lalu lalang. Langit terlihat gelap. Mobil-mobil itu berlalu cepat. Seakan tak ingin terjebak dalam lebatnya hujan.

 

Aku meremas sebuah amplop  yang   sedari tadi ada dalam genggaman tanganku. Bentuknya sudah lusuh. Aku benci amplop itu. Dan ratusan amplop lainnya  yang selalu kuterima setiap bulan.

 

KENAPA BUKAN AKU?!

 

BOLEHKAH AKU MENGGANTIKANNYA TUHAN?

 

Kupukulkan salah satu tanganku yang  bebas ke  dashboard  mobil,  membuat sebuah boneka anjing  yang bertengger disana terjatuh. Aku memandang boneka itu. Aku mengambilnya. Aku memeluk boneka itu seperti orang gila. Boneka pemberiannya. Boneka terakhir pemberiannya.

 

Aku merindukan saat-saat dulu. Tertawa bersamanya,  bukan tangisan seperti ini. Bercanda bersamanya, bukan diam seperti ini. Mencintainya, bukan menjauhinya.

 

Andai kecelakaan itu tak pernah terjadi. Andai aku berhati-hati. Ia tidak akan menjadi seperti ini. Setiap malam aku merutuk dalam hati. Menyesali apa yang telah terjadi. Andai saja..

 

Lama aku terdiam.  Menyesali hidup. Merutuki nasib. Dan mobil pun melaju perlahan. Takut akan masa depan. Tak ingin waktu berjalan. Berhenti, selamanya.

 

Wajah cerianya terus menari-nari dalam otakku. Saat ia tertawa bersamaku.  Saat suara indahnya bernyanyi bersamaku.

 

Aku beruntung telah mengenal dirinya. Aku beruntung bisa mencintainya. Tapi sial bagiku, karena akan kehilangan dirinya, untuk selamanya.

 

Mobilku pun aku laju kan secepat mungkin. Aku tahu tidak akan mengubah apapun. Penyakit sialan yang bersarang dalam otaknya tidak akan bisa hilang karenanya. Tak perduli bergalon-galon air mata yang jatuh.Dia akan tetap seperti itu.

 

Ingin aku bertahan,  tersenyum saat bertemu dengannya. Tapi saat memeluknya, saat itu aku tak mampu membendung air mataku. Oh Tuhan.. berat sekali cobaanmu padanya. Dia hanya seorang gadis lemah. Tak punya siapa-siapa lagi selain aku. Berjuang melawan penyakit yang setiap hari semakin parah. Mencoba tersenyum walau badannya terasa sakit. Mengatakan bahwa “akubaik-baik saja”. Aku tahu itu bohong. Karena aku sering mendengar rintihan sakitnya, saat aku tidak bersamanya.

 

Mobilku kuhentikan tepat didepan sebuah jalan setapak. Di kanan-kirinya ada ilalang setinggi pinggang. Aku menyusuri jalanan itu, hingga mataku tertumbuk pada sebuah bangunan. Rumahku. Rumahnya. Rumah kami. Kubangun khusus untuknya. Kubangun karena aku mencintainya.

 

Author’s POV

Beginikah susahnya untuk mati? Apa aku harus menderita dulu baru bisa tenang?  Beginikah rasanya, tak punya lagi semangat hidup? Aku terus termangu disini. Sendiri. Sepi.

 

Aku benar-benar beruntung bersamanya. Mencintainya. Orang  yang bertahan untukku sampai akhir.  Orang  yang  tidak akan meninggalkanku sendiri.  Berkat dia,  aku masih mampu menjalani sisa hidupku yang sudah diambang maut.

 

Aku mencoba mengingat lagi. Tinggal sedikit kenanganku bersamanya yang masih ada dalam otakku. Hanya kenanganku dengannya yang tersisa. Siapa orangtuaku pun  aku sudah tidak ingat lagi.

 

**  Flashback**

Hanya tinggal lima  orang  siswa  yang  ada disini.  Mengikuti audisi untuk paduan suara sekolah. Aku menunggu dengan cemas. Sebentar lagi giliranku.

 

Seorang namja tengah menghentak-hentakkan kakinya. Sebuah earphone  besar menutupi kedua telinganya. Ia memejamkan mata dan bergumam pelan.  Aku merasa terganggu. Dia semakin membuatku gugup.

 

“silleyo.. bisakah kau hentikan menghentak-hentakkan kakimu?” ucapku sopan

 

Dan namja itu tidak mengacuhkanku. Ia malah semakin memperkeras hentakan kakinya.  Aku semakin kesal.

 

Aku mencoba bersabar. Kubalikkan badanku agar tidak bisa melihat dirinya lagi. Namun  yang  terjadi kemudian,  gumamannya semakin keras. Aku tahu lagu itu. Aku benci lagu itu. Terlalu berisik. Dengan suara bass yang keras, drum yang membahana. Aku benci itu

 

Seorang  guru  memanggil peserta berikutnya. Nomor 61. Itu nomor urutanku. Aku beranjak dan menghampiri guru itu. Dan namja itu mengikutiku. Kami berdiri berjajar didepan guru, sambil menyerahkan kertas nomor urutan kami dalam waktu yang bersamaan

 

“kenapa nomor kalian sama?” Tanya guru itu

 

“mollaseoyo songsengim” ucapku bingung “mungkin dia yang salah lihat. Mungkin nomornya 19”

 

“mwo? Maksudmu aku bodoh karena salah mengira nomor ini 61, begitu?!”

 

“anieoyo.. aku tidak bilang kau bodoh..”

 

“cara bicaramu itu! ”

 

“begini saja..” tukas guru itu tidak sabar “kalian masuk saja bersama-sama. Ayo cepat, sebentar lagi malam”

 

Aku dan namja itu dengan patuh mengikuti sang guru yang tinggi kedalam ruangan. Di sana sudah menunggu dua orang penguji. Mereka juga guru kesenian di sekolahku. Aku mengenal mereka dengan baik. Meskipun begitu, aku tetap gugup. Aku melirik kearah namja itu. Dia tampak sangat santai.

 

“kau saja duluan.” Ucapku padanya

 

“mwo? Tadi kau bersemangat duluan kan?”

 

“aku tidak bersemangat.. pokoknya kau duluan saja, jebal..”

 

Namja itu menghela napasnya dengan berat,  lalu berjalan ketengah ruangan. Penguji itu mulai membaca berkas-berkas di atas meja, sembari sesekali melirik namja itu.

 

“namamu, Lee Dong Hae?”

 

“ne, songsengnim”

 

“aku belum pernah melihatmu sebelumnya”

 

“aku baru pindah kesini, songsengnim. Dua minggu yang lalu”

 

“baiklah. Silakan dimulai”

 

Dan  detik berikutnya akupun terpana. Dia tidak menyanyikan lagu keras yang tadi ia gumamkan itu. Sebuah lagu ballads yang indah.Aku mengenali lagu itu. Salah satu lagu favoritku.

 

Miss You’(1)

 

Suaranya begitu indah. Jernih. Bening. Ia bernyanyi dengan penuh perasaan. Dua orang penguji itu dibuatnya terpana. Bahkan, mulut mereka masih terbuka saat namja itu selesai bernyanyi. Barulah saat namja itu berdehem, kedua penguji itu terkejut dan langsung membereskan berkas-berkas dan memberi penilaian.

 

“kau boleh pergi. Besok pagi pengumumannya”

 

Namja yang bernama donghae itu pun pamit. Aku segera beranjak menuju ketengah ruangan, menggantikan posisinya.

**Flash Back End**

 

Donghae’s POV

Rumah ini, rumah kenangan. Banyak cinta yang tumbuh disini. Bagaikan surga, aku memuja dan bahagia. Tak ingin aku kehilangannya.

 

Kulangkahkan kakiku memasuki rumah berpintu ek. Rumah kayu itu terasa sangat nyaman, dulunya. Sekarang terasa hampa. Kelam. Tak ada kehangatan.

 

Aku memandangi pigura-pigura di lorong menuju ruang tengah. Ada lebih banyak gambarnya didalam bingkai pigura itu. Dia yang tersenyum ceria. Kami yang bahagia.

 

Masih segar dalam ingatanku, saat pertama kali aku bertemu dengannya. Tak pernah kubayangkan orang seperti itu bisa aku cintai setengah mati. Aku menyukai suaranya. Suara yang lebih merdu dari Celine Dion sekalipun. Suara yang mampu membuat jantungku berdebar lebih cepat dari bisaanya.

 

**Flash Back**

Yeoja aneh. Mengatakan nomor urutanku yang terbalik. Dia kira aku bodoh? Dan sekarang dia meminta aku duluan. Apa yang ada dipikirannya?

 

Aku langkahkan kakiku menuju keluar ruangan audisi, sementara yeoja itu berjalan menggantikan posisiku ditengah ruangan. Aku memutar kenop pintu dan segera beranjak keluar, saat tiba-tiba suara indah membelai telingaku. Pintu kututup kembali. Dan diam-diam, aku melihatnya bernyanyi.

 

Dia menyanyikan lagu ballad. Sungguh merdu sekali. Suaranya bening, namun tegas. Ia dapat mencapai nada-nada tinggi tanpa masalah. Membuat lagu yang ia nyanyikan terasa lebih indah. Aku tahu lagu itu. Karena lagu itu lagu favoritku.

 

‘Saranghae’(2)

 

Nyanyiannya berhenti. Aku lihat kedua penguji itu terpana padanya. Yeoja itu menunduk. Seakan ia sudah membuat satu kesalahan. Tak lama kemudian, ia pamit dan beranjak keluar.

 

Mata kami berpapasan di depan pintu. Aku melihatnya lagi. Wajahnya cantik. Bersahaja. Lugu, tapi terkesan pintar. Matanya bulat dan pandangan matanya tajam. Dan saat itulah, aku menyukainya.

**Flash Back End**

 

Author’s POV

Air mataku keluar lagi. Aku berusaha menepis segala pikiran buruk dari otakku. Bahwa aku semakin lemah. Bahwa aku akan mati. Bahwa aku akan meninggalkan dirinya, selamanya.

Ratusan kalimat rutukan meluncur dari mulutku. Ribuan kalimat ampun keluar dari mulutku. Permohonan maaf tak henti-hentinya aku ucapkan. Kata-kata cinta tak bosan-bosannya aku sampaikan.

Bagaimana nanti kalau aku pergi? Apa dia bisa menjalani hidup? Aku tidak ingin pergi! Aku mengkhawatirkan dirinya! Oh, Tuhan.. apa yang harus aku lakukan??

 

**Flash Back**

“aku mencintaimu, saufa ssi..”

 

Kata-kata darinya, akan membuat semua wanita terpana, dan tanpa berpikir panjang akan langsung luluh. Tapi aku tidak. Satu kesalahan darinya beberapa hari yang lalu benar-benar membuat aku belum bisa memaafkan dirinya. Aku juga mencintainya. Tapi pengkhianatan darinya benar-benar merusak segalanya.

 

“mianhae.. jeongmal miahae..”

 

Aku menutup mataku. Tidak bisa. Aku akan memaafkannya dengan mudah kalau aku melihat wajahnya. Mata hitamnya. Tampang memelasnya. Tidak bisa. Aku harus terus menutup mataku

 

“saufa ssi.. jawab aku..”

 

Sudah lama kami berpacaran. Mungkin sekitar lima tahun yang lalu. Seminggu setelah aku mengikuti audisi. Terlalu cepat memang. Mengingat aku yang baru kenal dengannya hanya dalam waktu satu minggu.

 

Entah kenapa waktu itu aku luluh. Entah kenapa waktu itu aku menyetujuinya. Yang jelas, tampang memelasnya bisa membuat siapa saja melunak. Begitu juga denganku.

 

Dan karena itulah, aku terus memejamkan mataku. Aku benar-benar tidak bisa memaafkan orang yang mengkhianatiku. Aku mencintainya, dan dia dengan seenaknya saja berpelukan dengan yeoja lain. Lalu dia anggap aku apa?

 

Berkali-kali dia menjelaskan bahwa yeoja itu memaksanya. Dia kira aku percaya? Aku tahu masa lalunya. Penuh dengan yeoja-yeoja cantik dan seksi. Sudah beberapa kali aku memaafkannya, dan tidak kali ini.

 

Sebenarnya aku tidak mau kehilangannya. Aku ingin terus bersamanya. Hanya dia yang ada menemaniku sekarang. Hanya dia yang menopangku saat aku kehilangan segalanya. Hanya dia yang menghiburku saat aku harus kehilangan orangtuaku selamanya. Hanya dia.

 

Tapi kenapa hatiku sakit sekali, saat tahu apa yang dia lakukan dibelakangku? Bermain dengan yeoja seksi itu? Mengkhianatiku?

 

Aku bergegas pergi. Tak kuindahkan tatapan bingungnya saat aku meninggalkannya. Aku memasuki mobilku, dan menyalakan mesinnya. Kuinjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan bekas ban di tengah jalan. Dia mengejarku. Aku terus memperhatikan dirinya dari spion mobil. Dan diapun melambaikan tangannya, sambil mempercepat larinya. Matanya memerah. Berteriak, yang akupun tidak tahu apa maskudnya.

 

Cahaya menyilaukan menerpa wajahku. Aku kesulitan melihat cahaya itu. Dan sinar itu semakin terang, disertai bunyi yang keras dan bersahut-sahutan. Dentuman keras terjadi. Aku merasakan sekitarku bergetar, seakan baru saja terjadi gempa bumi yang dahsyat. Dan segalanya menjadi gelap.

**Flash Back End**

 

Donghae’s POV

Aku melihat sebuah foto yang terletak di atas meja kecil di samping tangga. Dirinya yang pucat, duduk diranjang pasien. Aku dibelakangnya, merangkulnya mesra. Aku teringat lagi kejadian itu. Seharusnya aku menolak yeoja itu dengan keras. Seharusnya aku tak membiarkan yeoja itu memelukku. Dan cintaku takkan menderita. Dan cintaku takkan lemah seperti ini. Dan cintaku akan hidup lebih lama.

 

Air mata kembali jatuh. Aku terisak. Aku berusaha menahan agar suaraku tidak terdengar olehnya. Aku berusaha agar tetap tegar didepannya. Tapi tidak bisa. Aku tidak mau kehilangannya. Benar-benar tak ingin.

 

**Flash Back**

Bagaikan tersambar petir, aku menerima amplop cokelat dari seorang dokter berseragam putih-putih. Aku benar-benar tidak percaya. Yeojachinguku. Cintaku. Separuh jiwaku. Harus menderita seperti ini. Kata-kata dokter itu bagaikan lidah api yang menyengat kulitku. Bagai ombak besar yang mengombang-ambingkanku seperti kayu. Bagai badai yang menerbangkan ku seperti kapas.

 

Brain Cancer? Stadium 3?

 

Ya Tuhan… kenapa harus penyakit itu? Kenapa harus dia? Padahal semua sudah baik-baik saja. Sejak kecelakaan tiga tahun lalu, baru sekarangkah kami menyadarinya?

 

Aku menggenggam tangannya yang mulai dingin. Ia tampak bergetar duduk disampingku. Wajahnya amat pucat. Matanya mulai memerah.  Kugenggam lebih erat tangannya. Ia menatapku, lalu tersenyum lembut.

 

Lagi-lagi senyuman itu. Saat sesuatu menimpanya, ia akan tersenyum seperti itu. Seakan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Aku tidak ingin membuatnya terus bersedih. Maka aku membalas senyumannya itu.

 

Berbulan-bulan kami terus berusaha. Berjuang agar penyakitnya sirna. Berbagai kemoterapi ia jalankan. Berbagai obat ia telan. Berbagai operasi ia lakukan.

 

Tapi ia tetap tersenyum. Aku tidak pernah melihatnya merintih kesakitan didepanku. Dia ingin terlihat kuat didepanku aku rasa. Dan ketika aku berpaling, air matanya tumpah. Menahan sakit. Menahan perih. Membuatnya semakin menderita. Membuat hatiku hancur.

 

Dan aku juga tidak ingin membuatnya semakin terbebani. Maka aku terus membalas senyumnya. Terus bersikap bahagia didepannya. Bersikap ceria. Seakan dia hanya terkena penyakit flu biasa.

 

Dan saat aku menjauh darinya, aku menangis sejadi-jadinya. Tak kuindahkan tatapan banyak orang yang kadang memergokiku tengah menangis. Aku tidak sanggup melihatnya mederita seperti itu. Aku benar-benar tak sanggup

**Flash Back End**

 

Donghae’s POV

Aku menghapus air mataku. Ia tidak boleh melihatku seperti ini. Aku beranjak terus menuju belakang rumah kenangan ini. Di pasti ada disana. Mungkin menjerit. Mungkin menangis. Mungkin meratap. Di tepi rawa. Ditemani kunang-kunang.

Kakiku melangkah pelan menyusuri jalan kecil yang menurun. Itu dia. Tengah duduk sendiri. Diatas kursi rodanya.

Tubuhnya yang rapuh. Kurus kering. Rambut indahnya yang sudah tak ada lagi. Kulitnya yang tak semulus dulu. Wajah cantiknya yang selalu ceria. Tak bisa lagi melihat matanya yang tajam. Tak bisa lagi mendengar nyanyian indahnya. Bahkan mendengar ia bicara saja tidak pernah lagi.

 

Aku menghampirinya dengan pelan. Memeluknya dari belakang. Ia tersenyum, dan mencium pipiku pelan. Dia merentangkan kedua tangannya, dan aku tahu maksudnya. Aku lalu menggendong tubuh kecilnya itu. Berjalan-jalan menyusuri tepi rawa.

 

Dia lalu menunjuk ke satu arah. Sebuah batu yang cukup besar terletak persis di tepi rawa. Aku duduk di batu itu, dan memangku dirinya. Kupeluk dia dengan erat. Membuatnya tetap hangat.

 

Author’s POV

Apa yang terjadi jika aku pergi nanti? Bagaimana dengannya? Bisakah dia menghadapi hari? Hari-hari kelam, tanpa aku disisinya?

 

Waktu yang memutuskan, aku yakin itu. Dia pasti bisa. Aku yakin. Sekarang entah kenapa aku lega. Dia seorang namja yang kuat. Kehilanganku tidak akan membuatnya hampa. Perlahan namun pasti, dia akan melupakan diriku.

 

Dia memelukku erat, diatas batu besar di tepi rawa. Hanya ada kami disana. Berdua. Tak ada yang mengganggu. Kuraih tangannya, dan kucium punggung tangannya dengan Lembut. Aku akan merindukannya diatas sana. Aku pasti akan merindukannya.

 

Donghae’s POV

Betapa kecil badannya. Ringan sekali. Dia mencium punggung tanganku. Ingin aku menangis. Tapi aku tahan. Dia tidak boleh melihatku bersedih. Karena hanya akan menambah rasa sakit dalam dirinya.

 

**Flash Back**

Hari ini aku dan dia, tengah berdiri berjajar berdua, didalam ruangan berdinding kaca. Didepan kami ada sebuah mikrofon panjang. Dan kami berdua mengenakan headset.

 

Seseorang diluar ruangan memberi isyarat pada kami untuk segera mulai. Music ballad langsung terdengar dari headset. Kami mulai bernyanyi

 

Lagunya amat sedih. Bercerita tentang perpisahan dua kekasih, untuk selamanya. Persis seperti kami. Harus terpisahkan maut. Tak sengaja, air mataku jatuh.

 

Aku melirik dirinya. Dia bernyanyi dengan penuh perasaan. Matanya terpejam. Untunglah dia tidak melihatku. Air mata jatuh semakin deras. Ditengah lagu, aku menghapus semua air mataku, tepat saat ia membuka matanya.

 

Ku genggam tangannya dengan erat. Saat ia melihat kearahku, aku mengangguk pasti. Seakan ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa dia punya segalanya, dan tidak akan meninggalkan apapun. Para penggemarnya, sahabat-sahabat nya, dan tentu saja, aku.

 

Kulihat rambutnya mulai rontok sebagian. Dan ia mulai mengenakan kacamata. Seorang perawat berdiri diluar ruangan, disamping pria yang memberi isyarat pada kami, berjaga kalau-kalau terjadi sesuatu padanya.

 

Sudah satu tahun penyakit itu menggerogoti dirinya. Akibat kecelakaan waktu itu, sel-sel kanker berkembang bebas dalam otaknya. Mengakibatkan ia harus kehilangan segalanya. Gerak, penglihatan, bahkan suara.

 

Suatu ketika suaranya menghilang di tengah lagu. Dan kami harus merekam lagi dari awal. Berkali-kali ia minta maaf. Wajah pucatnya terus menyiratkan kehawatiran, kalau-kalau rekamannya kali ini gagal. Dan aku harus meyakinkannya, bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada albumnya. Bahwa album ketiga ini akan melambung tinggi ke angkasa. Seperti biasanya.

**Flas Back End**

 

Author’s POV

Kami terus diam disini. Aku mengenggam tangannya yang besar. Mempererat genggamanku, agar dia tidak bisa jauh dariku. Aku merasa kesepian. Aku takut dia pergi. Aku takut sendirian. Mungkin ini saatnya.

 

Kurasakan sakit disekujur tubuhku. Kepalaku terasa sakit dan berkunang-kunang. Tulangku terasa seperti ditusuk-tusuk. Dan aku mual. Sakit sekali. Lebih sakit daripada biasanya. Inikah kematian?

 

Kubalikkan punggung tangannya, sehingga telapak tangannya menghadap kearahku. Aku menulis menggunakan jari telunjukku pada telapak tangannya, satu-satunya caraku berkomunikasi dengannya.

 

Donghae’s POV

Tubuhnya bergerak sedikit. Aku mempererat pelukanku. Agar ia lebih nyaman dan hangat. Ia lalu membalikkan punggung tanganku. Pasti ada sesuatu yang ingin dia katakan

 

mianhae

 

Aku menghela napasku. Kenapa dia selalu menulis kata-kata itu? Dia tidak perlu meminta maaf. Jangan meminta maaf. Karena aku akan semakin sedih

 

gamsae. sarangae

 

Aku tersenyum

 

“nado, saufa ssi. Sudahlah, jangan menulis apa-apa lagi. Kita masuk saja kerumah.”

 

Aku ingin beranjak, tapi dia menarik tanganku. Ia kembali menulis sesuatu

 

kurasa ini saatnya, donghae ssi

 

Ya Tuhan.. apa maksudnya? Apa malaikat maut tengah bersama kami, melambaikan tangannya, ingin menjemput nya? Jangan cabut nyawanya sekarang… aku mohon..

 

relakan aku, donghae ssi. Ajal akan menjemputku, cepat atau lambat. Jebal..

 

Aku memejamkan mataku. Aku tak kuat lagi menahan air mata. Dan air mata itu mulai mengalir membanjiri pipiku.

 

menangislah, donghae ssi. Gwenchana. Menangislah sepuasmu, tapi setelah aku tiada, jangan menangis lagi. Hadapi hidupmu. Bahagialah

 

Tidak, tidak.. bukan ini.. aku menjerit dalam hati. Jangan cabut nyawanya Tuhan… Jangan..!

 

aku selalu mencintaimu, donghae ssi. Selamanya. Aku.. benar-benar mencintaimu.. selamanya..

 

Aku terisak. Berkali-kali aku berteriak dalam hatiku, agar sang malaikat maut mau berbaik hati memberikan waktu untuknya lebih lama lagi. Lebih lama lagi. Atau cabut juga nyawaku. Karena aku tidak bisa hidup tanpanya. Benar-benar tidak bisa.

 

Author’s POV

Aku mencintainya. Ya Tuhan… aku mencintainya..! andai aku bisa mengatakannya, dengan mulutku. Dengan suaraku. Aku tidak akan begitu menyesal seperti ini.

 

Rasanya sakit sekali. Benar. Ini adalah rasa kematian. Selama ini aku bertanya-tanya, seperti apakah rasanya mati. Sekarang aku sudah tahu jawabannya.

 

Segalanya menjadi sunyi. Bahkan suara katak dan riak air tidak terdengar. Suara tangis dirinya juga tidak terdengar. Aku menangis dalam diam. Khawatir bagaimana dirinya kelak. Khawatir dia akan menyusulku kealam baka. Khawatir dia akan mengambil jalan pintas. Mengakhiri hidupnya.

 

Dan semua menjadi semakin kabur. Aku memalingkan wajahku dan menatap dirinya. Dengan lembut kucium bibirnya. Aku mengusap pipinya yang basah. Lalu aku kembali menatap rawa. Aku tidak mau wajah kakuku terlihat olehnya. Dia tidak boleh tahu, bagaimana raut wajahku yang menahan sakit di ambang kematian. Aku tidak mau.

 

 

Donghae’s POV

Kurasakan butir-butir air mata jatuh menimpa tanganku. Ini air matanya. Dia menangis. Oh Tuhan.. bagaimana caranya aku meminta padaMu? Aku rela memberikan segalanya. Nyawaku sekalipun. Asal jangan dia. Jangan dia.

 

Dia mengenggam erat tanganku. Sangat erat. Kami terdiam. Berdua menatap kunang-kunang yang semakin banyak. Riak air berhenti. Angin berhenti. Suara hewan malam lainnya berhenti

 

Kurasakan pegangan tangannya mengendur. Badannya mulai dingin. Aku mempererat pelukanku. Tidak ingin kehilangannya. Ingin selalu bersamanya.

 

Matanya kini terpejam. Dan wajahnya tersenyum, walau masih ada raut wajah kesakitan disana. Aku menciumi pipinya. Dia tetap diam. Bulir air mata terakhir jatuh dari pelupuk matanya yang terpejam. Ini akhir hidupnya.

 

Dan kunang-kunang itu semakin banyak. Seakan ingin mengantarkan kepergian cintaku. Mengantarkannya kealam sana. Bertemu dengan orang-orang yang telah meninggalkannya. Berkumpul dengan keluarganya.

 

Kuciumi bibirnya dengan lembut. Terasa dingin. Dan air mata lagi-lagi keluar. Aku terisak. Dia tidak akan bangun lagi. Takkan ada lagi senyum cerianya. Takkan ada lagi canda tawa bersamanya. Tak bisa lagi bernyanyi berdua dengannya. Tidak bisa lagi menciumnya dengan lembut, membisikinya kata-kata cinta.

 

Dan doaku tidak terkabul. Ribuan kali aku meminta, tapi Tuhan memang punya rencana lain. Aku menatap satu bintang yang bersinar terang. Cuaca benar-benar cerah. Surga mungkin telah menunggunya, dan ia akan bahagia disana, selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s