Between Your Choice – PART 2 [End]

-BETWEEN YOUR CHOICE-

 

Aku tidak menyesal telah mempercayaimu. Aku juga tidak menyesal untuk bersumpah akan mencoba membencimu. Satu lagi, terima kasih.

———————–

Amplop. Kubolak balik amplop biru safir itu. Tak ada petunjuk sama sekali siapa pengirimnya. Tanpa pikir panjang, aku membukanya. KASET.

 

Aku bergegas menuju kamarku. Kunyalakan tape recorderku untuk mengetahui apa isi kaset pita tersebut. Aku benar-benar penasaran. Volume memang sengaja kustel agak pelan mengingat ini sore yang cukup sepi.

 

10 detik.

Sama sekali tak terdengar suara yang keluar. Hanya suara desahan-desahan kecil dan pelan. Sesekali suara sesenggukan yang keluar. Entahlah, itu sesenggukan atau sebuah isakan. Hingga aku menarik kesimpulan bahwa itu adalah suara seorang laki-laki.

 

Apa seseorang sedang menerorku? Entah kenapa aku menjadi parno. Terlebih banyak berita di internet tentang modus teror yang baru. 27 misscall, bel yang berbunyi, dan kaset misterius ini. Arggh…

 

Tapi tidak mungkin jika ia menerorku. Mana mungkin peneror mau bersuara seperti.. mm.. tangisan..

 

30 detik.

Aku terus saja berfikir positif. Sepertinya ini memang kaset yang tidak penting. Aku memutuskan untuk kembali duduk di depan laptop kesayanganku dan mencari fanfiction.

 

“Hai, Carine,”

 

Aku terkesiap. Tanganku membeku, berhenti memainkan mouse pad. Aku sungguh tak percaya. Suara itu.. suara yang benar-benar familiar bagiku. Suara yang amat kurindukan. Suara milik seseorang yang sangat dekat denganku, setidaknya dulu.

 

“Nathan,”ucapku tak percaya.

 

Mungkinkah Nathan berada disini? Tak ada yang tak mungkin,bukan? Aku melihat kearah pintu. Tertutup. Jadi dia tak mungkin berada disini. Karena ia harus berada dekat denganku, paling tidak satu ruangan denganku agar aku dapat mendengar suaranya yang lirih.

 

Sesuatu yang bersuara !! Benda itu !! aku berjalan menuju tape-ku.

 

“Na..Nath?” panggilku pelan. “Kaukah itu?”ucapku sambil meraba permukaan tape.

 

Aku masih tercengang dengan apa yang barusan kudengar. jadi kaset ini adalah kiriman darinya? Apa dia akan menjelaskan semuanya? Jujur, aku belum siap untuk mendengarnya. Aku begitu takut.

 

“Bagaimana kabarmu ? Baik bukan?”

 

Aku tersenyum pahit. Suaranya sangat parau. Bahkan telingaku yang sensitif mampu mendengar jika dia sedang mengatur nafasnya. Mengatur emosinya.

 

“Carine,”ia mulai berbicara. “Kau tahu kematian ayahku dan Rey? Tentu saja kau tahu, karena aku sudah memberitahumu. Tapi ada satu hal yang kau tidak ketahui. Yaitu mengapa mereka mereka meninggal. Bukan. Mereka bukan kecelakaan, tapi dicelakai. Mereka tidak terbunuh, tetapi dibunuh. Dan kau tau siapa?” Dia berhenti.

 

Aku menelaah sebentar ucapannya. Otakku bekerja cepat dan keras. Kurang dari 5 detik aku tau sudah tau jawabannya. Jawaban bodoh dan aku sangat berharap jika pikiranku salah  dan jauh meleset.

 

“Ya, aku tau kau sangat pintar. Tepat, akulah yang melakukannya. Tanganku sendiri yang ternoda oleh darah mereka. Kecelakaan itu hanyalah topengku semata.”

 

Aku tercekat. Tubuhku bergetar. Hampir sja aku terduduk lemas karena mendengar ucapannya barusan. Ternyata jawabanku tepat, tak meleset sama sekali. Aku merasa sesuatu yang basah mengalir di pipiku.

 

“Jadi kau seorang…..” ucapku dengan suara bergetar. Aku tak mampu melanjutkan kalimat tersebut. Aku  tak mampu mengucap kata ‘pembunuh’ untuknya.

 

“Aku sangat menyesal. Tapi apa penyesalan dapat mengubah semuanya ? TIDAK. Lebih baik aku menyesal karena kamu membenciku daripada aku menyesal karena merenggut masa depanmu.”suaranya bergetar dan terdengar basah.

 

Ia terdiam. Sama sepertiku. Aku?? Masa depanku ? Apa hubungannya dengan pengakuannya itu denganku ? Mungkinkah Nathan melakukan ini semua untuk melindungiku ? Tapi melindungi dari hal apa ?

 

“Membunuh atau dibunuh. Itu pilihan awalku. Pilihan selanjutnya adalah aku, kau, atau kita. Memilihmu sama saja dengan memilih aku dan kita. Kehilanganmu sama saja dengan membunuhku.”

 

Right, dia melindungiku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Beribu tanda tanya bertebaran diotakku. Jika ia membunuh ayahnya, mungkin aku akan sedikit mengerti. Mengingat ayahnya brengsek dan selalu menyia-nyiakan dirinya dan ibunya. Tapi Rey ? Dia sahabatnya. Sahabat kami semenjak kami kecil. Lantas, jika kedudukanku sama dengan Rey kenapa dia tidak melakukannya padaku.

 

Aku baru menyadari bahwa tidak ada suara yang keluar selama semenit. Mungkin ia memberiku kesempatan untuk berpikir sejenak.

 

Ia menghela nafas panjang dan berkata dengan suara bergetar,”Saat kau mendengar ini, mungkin kita hanya bisa bertemu di kehidupan selanjutnya.”

 

Deg. Jantungku nyaris terdiam karena ucapannya. Air mataku turun dengan lebih deras. “Nath…”ucapku sangat pelan. Kini aku mendengar ia juga terisak.

 

“Carine, aku sangat merindukanmu. Kau tau, berusaha membuatmu membenciku sangat menyesakkan. Sama seperti membiarkanmu hidup dengan orang lain dimana aku tak bisa menjangkaumu.”

 

“Kalau begitu, jangan lakukan.” Sia-sia. Ia tak akan mendengarku karena ini bukan telepon. Ini rekaman yang sama sekali tak bisa dirubah. Dan apa yang dimaksud orang lain adalah Nicky?

 

“Aku bingung dengan apa yang akan aku lakukan. Hingga aku memutuskan mmbuat memori untuk kau ingat sebelum membuatmu membenciku. Cukup adil,bukan? Aku hanya ingin memori itu bisa hidup walau hanya menjadi sebuah titik kecil. Aku ingat janjimu dibandara? Berjanjilah sekali lagi untuk berusaha membenciku tapi tidak melupakanku.”

 

Bagaimana bisa aku melakukan hal itu. 2 hal yang sangat bertentangan yang harus dilakukan bersamaan. Aku tidak berjanji padamu,Nath. Tapi aku berjanji akan berusaha melakukan itu.

 

“Satu lagi,jenguk aku di Narvan saat kau bahagia dengan masa depanmu. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.”

 

Narvan ? itukah tempat tinggalmu nanti. Tempat orang yang akan berbahagia di surga.  “aku berjanji,”ucapku.

 

“Aku tidak memintamu memaafkanku, tapi setidaknya aku sudah mengucap kata maafku. Aku minta maaf atas semua ini. Maaf,Carine. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih sudah percaya padaku.” Ia menghela nafas panjang. “Selamat tinggal Carine. Berbahagialah dengan kehidupanmu. Aku mencintaimu.”

 

“Aku juga.”

 

Sudah tak ada suara lagi. Aku mengusap air mataku. Dan itu adalah kalimat terakhir darinya untukku. Ia sudah tak bisa lagi mendengar suaranya secara langsung. Aku tidak tau bagaimana mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat ini. Sakit. Sangat sakit.. Hanya itu yang bisa kujelaskan.

 

Entah apa yang aku pikirkan. Aku merasa tidak percaya dengan semua ini. Aku berjalan kearah laptopku dan mengetikkan situs berita  Indonesia. Tulisan headline yang terpampang dengan sangat jelas itupun mengahancrkan harapanku seketika.

 

“RENATHAN HADINATHA, PEWARIS TUNGGAL PERUSAHAAN TRAVEL ‘CANOPUS’ DITEMUKAN MENINGGAL DI APARTEMENTNYA PAGI TADI. DIDUGA IA DIBUNUH OLEH PERAMPOK BERSENJATA API YANG BERAKSI AKHIR-AKHIR INI.”

 

Satu lagi jawaban, Nathanlah yang meneleponku.

 

Aku menatap kosong kedepan. Air mataku merembes tanpa bisa kutahan. Benarkah ini semua terjadi? Aku ditinggalkan oleh satu-satunya orang yang yang menyayangiku. Aku ditinggalkan oleh teman kecilku. Aku merasa hampa ketika mengetahiu kenyataan bahwa aku tidak dapat mendengarkan suaranya lagi. Bahwa tadi adalah kalimat terakhirnya untukku. Bahwa dia sekarang sudah berada ditempat yang berbeda denganku.

 

Aku benar-benar tidak tau bagaimana keadaanku setelah ini. Mungkin aku akan menangis seharian, seminggu, atau bahkan lebih dari itu. Dan terpuruk. Aku tidak tau apa jadinya diriku tanpanya..

 

Aku membuka laci mejaku dengan sangat pelan. Mengambil foto masa kecil kami yang dibingkai frame biru muda. Foto saat aku masih bersama Nathan, dan kami menunjukkan senyum terbaik kami. Aku melangkah mundur dan duduk di tepi ranjangku tanpa mengalihkan pandangan kosongku pada foto itu.

 

Aku mendengar knop pintu terbuka dan seseorang berjalan mendekat padaku.

 

“Carine,”panggilnya. Aku tau dia Nicky. Aku masih terpaku pada kenanganku dengan Nathan. Ia duduk disampingku. Tangannya melingkar di bahuku. Menarikku kedalam pelukannya yang hangat. Sesekali ia mengelus rambutku untuk menenangkanku.

 

“Bisakah aku berfoto lagi dengannya?”ucapku hampa dengan suara parau. Aku mengelap kaca figura yang basah terkena air mataku.

 

Aku meletakkan foto ‘kami’ didadaku. Aku memeluk foto itu, memejamkan mata. Tapi air mataku tidak mau berhenti turun.

 

“Yakinlah,ia sudah melakukan yang terbaik. Untumu dan untuknya..”

———————————-

Aku tebangun ketika sesuatu menyilaukan mataku. Aku menggeliat. Kulihat fotoku dengan Nathan terpajang di bufet samping tempat tidurku.

 

“kau sudah bangun?” ucap Nicky mengagetkanku. Kulihat ia sibuk dengan iPhone-nya di sofa samping tempat tidurku. Aku mengubah posisiku dari tidur menjadi duduk dan berusaha mengumpulkan kesadaranku.

 

“Kuakui,Nona, aku benar-benar buruk. Lebih baik kau benahi penampilanmu. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu,”katanya. Ia lantas melangkah keluar dari kamarku.

 

Aku memberanikan diri ntuk bercermin. Benar-benar buruk. Mataku membengkak karena menagis semalaman. Bahkan sisa air mata masih bisa terlihat dipipiku. Aku terlihat seperti zombie..

 

Seusai mandi,aku mengoleskan pelembab di wajahku lantas menyapukan makeup tipis dan natural. Paling tidak aku terlihat lebih baik daripada sebelumnya. Aku keluar dari kamarku dan menuju kedapur.

 

“Wow, istrimu pasti bangga padamu,”candaku.

 

“Tentu saja!”

 

Aku duduk berhadapan dengannya. Nasi dengan ayam crispilah yang menjadi pilihan makanku pagi ini.

 

“Kau hebat,”ucap Nicky tiba-tiba. “Apa? Aku?”jawabku ditengah kesibukanku mengunyah makanan.

 

“Tentu saja. Kupikir kau begitu begitu rapuh, ternyata kau lebih dari kuat. Aku sama sekali tidak menyangka kau akan kembali secepat itu. Bisa-bisa aku mengidolakanmu.. ah, tidak boleh!”

 

Aku tersenyum mendengar ucapannya yang bisa kuanggap sebagai pujian. “Bukankah kau dan Nathan berkata jika masa depanku masih panjang ?”

 

“Ah,ya.. kau benar. Aku saja raga apakah aku bisa kuat sampai sekarang jika aku menjadi Nathan. Mungkin aku akan terjun dari puncak gedung saat itu juga.. haha..”

 

“Bagaimana jika kau menjadi aku?”tanyaku.

 

“Sama,”jawabnya ringan. Kami tertawa bersama. Seolah tidak ada hal terjadi sebelumnya.aku melanjutkan makanku. Aku (berusaha) menghilangkan pikiranku tentang Nathan.

 

“Nicky..”

 

“Ya,”

 

“Aku belum mengerti semuanya. Bisakah kau menjelaskannya padaku ?”pintaku.

 

“Apa dia tidak bercerita semuanya?”

 

“Belum.. eh, maksudku tidak..”

 

Nicky menyeruput sedikit air, kemudian meletakkannya dengan sangat lembut. Terlihat sekali bahwa gaya hidupnya sangat berkelas. Ia tersenyum kecil. “Apa yang ingin kau ketahui?”

 

Aku tersenum girang. Nicky pasti akn menceritakan semuanya padaku. “Apa hubunganmu dengan Nathan selama ini ? benarkah jika kalian hanya bersahabat ?”tanyaku to the point dan penuh selidik.

 

Ia mengernyit. “Ia tidak menceritakannya?” Aku menggeleng. “Aish, menyusahkanku saja,”gerutunya. “Well, sangat mudah menjelaskannya. Hanya perlu dua kata. Aku mengkhianatinya.”

 

Mataku terbelalak. “Apa?”

 

“Awalnya aku hanya bermain-main dan masuk kedalam agen biadab ini. Kau tau bagaimana seseorang mencari jati diri,bukan?”

 

>>FLASHBACK<<

-Nicky POV-

 

Aku sudah muak berada disini. Aku sudah lelah membiarkan tanganku terus berlumuran darah. Aku tidak mau terus terjebak dalam neraka dosa ini. Dengan penuh ketakutan,aku menghadap bos besar kami.

 

“Aku dapat beasiswa di Inggris,”ucapku sangat datar. Kakiku bergetar karena aku takut.

 

“Tentu saja.” Aku terkesiap. Aku sama sekali tak menyangka kata-kata itu mudah keluar dari mulutnya. Aku tersenyum senang. “Setelah kau membawa Nathan dan mengajak kerja sama.”

 

Mulutku kembali terkunci. Haruskah aku mengajak Nathan? Dan menyeretnya kejurang dosa ini? Sesaat aku berfikir. Tapi aku lebih cinta dengan nyawaku dan mungkin ini kesempatan satu-satunya untuk pergi dari sini. Kuharap kau memaafkanku,Nath.

 

Aku bukan orang bodoh yang langsung menjalankan perintah atasannya begitu saja. Aku menyelidiki apa yang menjadi alasan ‘Boss’ yang mengincar Nathan. Hingga akhirnya aku dapat alasannya. BALAS DENDAM. Kenapa ? karena adik keponakan yang sangat disayanginya mencintai Nathan. Tetapi Nathan sama sekali tak menoleh padanya. Bahkan ia mengabaikannya begitu saja dan itu membuat sang gadis patah hati dan akhirnya sekarang sakit keras.

 

Lantas kenapa tidak langsung membunuh Nathan saja? jawabannya mudah. Karena ia ingin Nathan menyiksa Nathan yang hidup dalam penyesalan.

 

Mungkin hari ini aku menjadi orang yang sangat jahat. Aku mengajak Nathan untuk ‘bermain-main’ dengan kami. Hanya untuk mengatasi kejenuhan,dan mencari sensasi baru, itu alasanku agar Nathan bergabung. Bodohnya, dia sama sekali tidak mempersulitku. Ia setuju dan masuk begitu saja.

 

Ini tugas terakhirku disini dan sekarang sudah selesai. Aku mengemasi barang-barangku dan hendak pergi jauh dari negara ini. Tapi seorang laki-laki menghalangiku melewati pintu. Aku tertunduk, tak berani menatapnya.

 

“Permisi, aku mau pergi.” Ucapku setenang mungkin.

 

Tangan kanannya mendorongku merapat ke dinding. Aku tidak mungkin melawan. Tenaganya jauh lebih kuat daripada aku. “Kenapa kau akan pergi ?”ucapnya penuh amarah. “Karena tugasku selesai,”jawabku ringan. Tapi sangat berat.

 

“Bukankah kau berjanji tidak akan meninggalkanku disini?”bentaknya. matanya berkilat marah dan penuh kekecewaan. Ini adalah kali pertama aku melihat tatapannya seperti ini darinya.

 

“Salahmu percaya padaku,”

 

“SHIT!!!”pukulan keras menyambar pipi kananku dan membuatku tersungkur ketanah. Tidak berlebihan jika ia marah. Dengan penuh amarah, ia melepaskan bogem mentahnya padaku. Aku hanya pasrah. Anggap saja ‘sedikit’ tebusan dari apa yang sudah kulakukan.

 

Ia berhenti. Dan berjalan mundur beberapa langkah dariku. Wajahnya menunduk penuh penyesalan.

 

“Maaf,”ucapnya.

 

“Kenapa kau berhenti ?”tantangku.

 

“Aku tak mau membunuhmu.”

 

Aku mengelap sudut bibirku yang berdarah. Aku berdiri meraih koper di dekatkku. Mengatakan hal ini adalah sesuatu yang sangat sulit bagiku. Aku berjalan dan berhenti di depannya. Aku tersenyum kecut. “Bukankah kau sudah menjadi pembunuh ?”bisikku. aku menarik koper dan berjalan melewatinya. Meninggalkan ia sendirian yang masih terpaku penuh amarah.

 

Aku menghela nafas. Lebih baik ia membenciku..

-Nicky POV End-

 

>>Flashback End<<

 

“Hal itulah yang membuatbya begitu membenciku. Tapi entah kenapa dia begitu bodoh.. dia meminta maaf padaku dan menganggap itu semua bukan kesalahanku. Bahkan ia menawariku pekerjaan di cabang perusahaannya disini. Aku semakin merasa bersalah dan menyesal. Tidak seharusnya aku melakukan hal itu padanya. Aku sudah meninggalkannya sendirian disaat ia butuh seseorang disampingnya. Sayang sekali penyesalan tidak berarti apa-apa.. Kau mengerti sekarang?”

 

“Lantas, jika dia bisa melakukannya pada Rey,kenapa tidak denganku?”

 

“Jika pertanyaannya kenapa ia melakukan hal itu pada Ayahnya dan Rey,sangat mudah menjawabnya. Pilihannya hanya membunuh ata dibunuh.”

 

Sepertinya jawabannya berbeda dengan pertanyaanku. “Kenapa tidak denganku?” tanyaku sekali lagi dengan menaikkan nada bicaraku.

 

“Bukankah dia sudah mengungkapkan perasanny padamu? Jangan bilang kau tidak bisa menyimpulkan..” aku menggeleng lemah. “Aish,kalian sama-sama bodoh,”keluhnya. Wajahnya beruah menjadi sebal. Tapi tak berapa lama ia berubah serius. Membuatku sedikit bergidik.

 

“Kau berbeda Carine,kau bukan Rey. Kau lebih dari sekedar sahabatnya. Kau adalah nyawanya,kau kehidupannya. Kehilanganmu sama saja dengan dia kehilangan dirinya.”

Aku mencoba mengaitkan kalimat yang pernah diucap Nicky dan Nathan. “3 pilihan itu.. Aku, dia, kita.. jadi..”ucapku pada diri sendiri. Hanya bisikan, tapi sepertinya Nicky tahu apa yang aku ucapkan.

 

“ya.. kau,dia,atau kalian. Memilihmu sama saja dengan memilih kalian. Ia akan membunuhmu, tapi aku tidak yakin ia mampu bertahan hidup tanpa dirimu. Itu yang diinginkan bos kami. Bukankah itu jauh lebih menyakitinya? Tapi ia begitu bijak. Ia tau masa depanmu masih terbentang. Mengorbankan dirinya dan menyelamatkan masa depanmu,”jelas Nicky.

 

Aku menatap kosong pada Nicky. Pandanganku semakin kabur karena air mata yang mulai menggenang. Samar-samar aku melihat Nicky menatap jendela dengan mata berkaca-kaca.

 

“Aku bahkan tak mengerti bagaimana perasaannya. Dan aku tidak mau mengerti. Terlalu menyakitkan, bahkan jika hanya untuk dibayangkan saja. harusnya saat itu aku tidak meninggalkannya sendirian. Dia amat kuat,”lanjutnya.

 

Air mataku sudah jatuh sedari tadi. Nathan sudah melakukan semuanya untukku. Nicky berjalan mendekatiku. Memelukku dan mengelus punggungku. “Kuatlah,Carine. Jangan buat semua yang ia lakukan sia-sia.”

 

Carine mengusap pipinya yang basah. Ia tersenyum walau terkesan memaksa. “All will be different after now, isn’t it?”ucapnya samar.

 

Nicky tersenyum melihat kembalinya Carine. ia mundur beberapa langkah dan membiarkan Carine keluar dari kursinya. Carine berlari kekamarnya dan mengobrak-abrik laci mejanya dengan kasar.Nicky mengikuti Carine, ia masih tak tau apa yang akan dilakukannya.

 

“Ini dia!!”seru Carine. ia berhasil menemukan  teropong pemberian neneknya. Ternyata Nathan mengemas semuanya, ia tahu semua barang yang dibutuhkan Carine. Nicky hampir sampai didepan kamar Carine,namun Carine  lebih dulu berjalan keluar.

 

“mau kemana?”tanya Nicky saat mereka berpapasan.

 

“Melakukan saranmu,”jawab Carine. setelah itu ia berlari meninggalkan Nicky yang masih terpaku.  Nicky menoleh kearah Carine kebingungan. Ia melihat benda yang ada di genggaman Carine. menyadari sesuatu, ia berllari mengejar Carine.

 

Carine tidak menggubris panggilan dari Nicky. Ia terus berlari menaiki tangga. Ia mencoba lebih cepat agar jaraknya tetap jauh dengan Nicky.

 

Carine berhenti tepat di tanga terakhir. Ia menatap pintu yang ada didepannya. “Aku menyesal telah mengatakan hal itu padamu,”rutuk Nicky. “salahmu mengatakannya,”balas Carine. ia mengambil nafas panjang kemudian membuka knop pintu. sesaat ia menikmati hembusa angindi wajahnya. Kakinya perlahan melangkah kedepan. Ia sudah berada di atap apartemennya sekarang. tepatnya di ujung atap apartemennya. Satu langkah kedepan,ia akan mati.

 

“Apa yang kau lakukan ?”tanya Nicky dari belakang.

 

“Just find pleasant place for landing,”jawab Carine acuh tak acuh. Ia menggunakan teropongnya. Mengatur perbesaran agar ia dapat melihat sesuatu didepannya dengan jelas.

 

 

Lalu lalang orang dibawah terlihat. Walau hanya seperti serangga yang berjalan. Nicky tak dapat menyembunyikan kegalauannya. Tapi ia berusaha serileks mungkin agar ia bisa mengimbangi keberanian Carine yang sama sekali tidak terlihat gugup. Padahal jika ia salah satu inci saja, ia pasti akan jatuh dan mati.

 

“Oh.. Come on Carine! Do you want to leave me here?”pinta Nicky.

 

“Honestly, I want to do,”

 

“Do you think Nathan will happy because you jump down to follow him? Thats funny,”

 

“Close your mouth! I never think you’re talkactive!”bentak Carine.

 

“Show me why I must quiet?” tantang Nicky.

 

“Bcause I dislike it. Very much,”

 

Carine kembali pada aktivitasnya mengamati kota. Perlahan hujan mulai turun. Menyisakan tetesan kecil di rambutnya. Ia menengadahkan tangan keatas dan menikmati rintik hujan di tangannya. Pandangannya memerawang jauh kebelakang. “Wow.. Ini masih sama seperti dulu,”ucapnya penuh dengan rasa pedih. Air matanya mengalir begitu saja. membiarkan semua rasa sakit yang tersisa pergi bersama hujan.

 

Ingin rasanya Nicky menghampirinya dan menenangkan orang yang sangat dicintai sahabatnya itu. Hh, apa masih pantas ia disebut sahabat? Tapi sepertinya dengan membiarkannya ‘menikmati’ hujan jauh lebih baik. Nicky pun terhanyut dalam suasana yang hampa. Ia teringat ketika Nathan merebut mainan kesayangannya hingga ia menangis sejadi-jadinya. Bahkan ketika Nathan yang terlalu mempercayainya mau berhujan-hujan untuk mengambil tasnya yang ketinggalan di sekolah. Semua memori itu terekam jelas dibenaknya. Membuatnya semakin merasa bersalah. Jika saja ia tidak melakukan itu pada Nathan, tak mungkin sahabatnya, orang yang dicintai sahabatnya, bahkan dirinya merasa sakit. jika saja…

 

Perlahan Nicky pun menangis. Mereka berdua menangis dibayah hujan yang menyembunyikan air mata mereka. Sebenarnya mereka hanyalah orang yang sangat rapuh tetapi sok kuat. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tapi ada satu hal yang sama dalam pikiran mereka…

 

They want to spend their tears for today. Not for tomorrow, or the other day..

 

END

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s