Between Your Choice – PART 1

                -Between Your Choice-

Title                       : Between Your Choice

Length                  :Two-shot

Cast                       : Nathan, Carine, Nicky.

Genre                   : Sad Romance, Hurt, Friendship

Rating                   : T / PG-15

Author                  : PearlCanopus

Disclaimer           : This story is mine and it just my fiction, include the cast.. If you want to take out, please take out with full credits.

^^HAPPY READING^^

 

Kupikir kau akan pergi untuk kembali. Tetapi tidak. Kau kembali untuk pergi.

—————

“Ini..” katanya sembari memberiku selembar kertas. Sesuatu yang sangat kuinginkan sejak dulu terwujud saat ini. Sebuah tiket VIP Drama Musikal Autumn Lie. Akhirnya aku bisa menonton Aloysia dan Kevin, dua artis idolaku.

 

“Kyaaa!!!” Aku berteriak dan memeluknya girang. Tapi dia melepaskan pelukanku. “Hentikan, kau bisa menimbulkan fitnah yang mencoreng nama baikku,”ucapnya dingin.

 

“oops! Maaf,”aku melepaskan pelukanku.  “aku hanya terlalu senang,”lanjutku.

—————-

Dia duduk disebelah kananku. Aku memperhatikannya. Aku baru menyadari jika omongan orang lain itu benar. Dia seperti pahatan pualam es. Sangat dingin. Bahkan ia tak berkata apapun sejak tadi. Padahal biasanya ia jauh lebih cerewet ketimbang orang lain yang berda disekitarku. Entahlah, mungkin dia sedang memikirkan sesuatu. Tapi, tak biasanya dia menyembunyikan sesuatu dariku. Ah, sudahlah, mungkin dia memang belum mau bercerita.

 

Tiba-tiba dia menoleh kearahku. Aku terkesiap. Aish, aku tidak mau membayangkan betapa malunya wajahku. “apa?”tanyanya singkat. “ti..tidak..”jawabku gelagapan. Dia hanya tersenyum kecil dan langsung mengalihkan pandangannya kearah panggung. Sedangkan aku tetap memandanginya penuh ketakjuban. Aku seperti mematung.

 

“Nathan,”ucapku lirih. Ia menoleh. Ternyata ia mendengar panggilanku.

 

“ya,”

 

“kau tau, aku baru menyadarinya. Wajahmu begitu…”aku memberi sedikit jeda. “sempurna,”lanjutku nyaris tanpa suara. Tapi aku yakin ia mampu membaca gerakan bibirku yang seharusnya sangat jelas. Lagi-lagi ia hanya tersenyum. Tak sulit menyimpulkan jika ia seperti seorang vampir di novel Stephenie Meyer. Dingin, teduh, dengan senyum mematikan.

—————-

“lain kali aja ya. Aku masih harus mengerjakan tugas dengan Jessica,”tolaknya.

 

“oh, its ok,” jawabku. Sebenarnya aku sangat kecewa. Hal yang wajar jika ia menolak pulang denganku hanya satu atau dua kali. Tapi ini hari yang ke tujuh. Padahal biasanya ia akan menyempatkan diri bahkan menunda pekerjaannya untuk pulang barsamaku. Dan selama ini Jessica-lah yang menjadi alasan. Oke,dia memang selalu satu kelompok dengan Jess, tapi bukan kelompok yang diacak oleh guru tetapi kelompok yang kita dibebaskan untuk memilih siapa anggotanya.

 

Hei! bukankah dia membenci Jessica. Apa dia sudah berubah?tidak mungkin, ia bukan orang yang mudah memaafkan orang lain yang membuatnya sangat kecewa terlebih itu menyangkut orang yang disayanginya. Apa yang sebenarnya terjadi ? apa ia benar-benar tiadk akan menceritakannya padaku ? aku ini sahabatnya..!!

 

Pikiran negatif ini benar-benar menggangguku. Semua ini membuatku bingung. Terlebih hubungan kami berdua yang menurutku sedikit merenggang.

—————–

Setiap sore aku kerumahnya. Kami memang selalu belajar bersama sejak kami kecil. Tapi rumahnya selalu terkunci. Tirai-tirai tertutup. Nyaris seperti rumah kosong yang ditinggal penghuninya.

 

Beberapa hari ini ia jarang masuk sekolah tanpa alasan yang jelas. Sekalipun ia masuk, pasti ia hanya mengikuti jam pelajaran pertama saja. Aku nyaris tidak pernah melihatnya lagi. Aku hanya pernah melihatnya ketika dia bersama Deny, cowok brengsek yang hanya ada di sekolah kami.

 

“Nath, kita perlu bicara?” kataku.

 

“apa? Cepatlah. Aku tidak punya banyak waktu,”jawabnya ketus.

 

“aku merasa akhir-akhir ini hubungan kita merenggang dan kau terlihat berubah. Sebenarnya apa yang terjadi padamu dan apa yang kau lakukan bersama Deny?”tanyaku to the point.

 

“bukan urusanmu!” jawaban yang begitu singkat dan menyakitkan. Ia berjalan dan menabrak bahu kananku. Aku yakin aku akan terjatuh jika tidak menjaga keseimbangan. Aku memandang punggungnya yang mulai menjauh dengan penuh kekecewaan.

 

Dia benar-benar berubah. Dia bukan Nathan teman kecilku yang tampan dan manis. Ia bukan Nathan yang sangat polos dan imut. Dia berbeda. Ia membenciku. Hal itulah yang selalu ada dipikiranku. Seperti yang kau pikirkan ketika orang yang biasanya ada disekitarmu malah pergi darimu tanpa seizinmu.

 

Sudah hampir seminggu aku sama sekali tidak melihatnya. Bahkan rumahnyapun sudah dijual kepada orang lain sejak 5 hari lalu. Aku begitu kacau tanpanya. Biasanya aku pergi ke kantin bersamanya. Mengerjakan tugas bersama. Tapi sekarang ? aku hanya sendirian. Hidupku benar-benar terasa kosong. Kau tau bagaimana rasanya? Sangat hambar.

 

Sangat jauh dari pikirannku sebelunya. Dimana sekarang seharusnya dia berada dismpingku berjalan-jalan mencari pernak-pernik tahun baru. Tapi tidak. Nyatanya aku berjalan seperti orang linglung di tengah kota.

 

Ckittt..

Sebuah mercedes hitam berhenti tepat disampingku.sejenak aku menghentikan langkahku, tetapi kemudian melangkah lagi. Tiba-tibe seseorang meraih pergelangan tanganku dan menarik tanganku secara paksa. Aku mencoba melawan, tetapi percuma. Tenagaku laki-laki itu jauh lebih kuat daripada aku. Aku sama sekali tidak melihat wajahnya, karena ia memakai kemeja hitam dan kacamata hitam.

 

Tunggu.. sepertinya aku mengenal postur itu. “Nathan?” ucapku yang hanya gerakan bibir. Entah kenapa aku menyimpulkan senyum kecil. Ia memaksaku masuk kedalam mobil dan aku mengikutinya begitu saja. Ia memakaikan sabuk pengaman padaku dan langsung menginjak gas.

 

Aku menatap wajahnya yang sangat tampan dari samping. Wajahnya terlihat sangat kalut dan tertekan. Aku melihat speedometer yang menunjuk angka 100km/jam. Aku memejamkan mataku dan bertanya-tanya apa yang dia lakukan selanjutnya. Dan perlahan air mata mengaliri pipiku. Aku tidak tau kenapa, tapi entah kenapa aku merasa sangat takut sekarang. Aku ingin jika waktu berhenti sampai sekarang dan tidak berjalan lagi barang sedetikpun.

 

Aku merasa sedikit guncangan di tubuhku. Tenyata mobil sudah berhenti dan aku membuka mataku perlahan. Aku melihat orang berlalu-lalang dan tidak sedikit yang membawa kertas dalam genggamannya. Aku menajamkan penglihatanku. Kertas itu adalah tiket pesawat. apa disini bandara ?

 

“keluarlah,” ucapnya saat membuka pintu mobil untukku. Aku mengernyit. “ikuti aku,”lanjutnya lembut. Ia menarik sebuah koper besar berwarna silver.

 

Aku mengikutinya berjalan sampai aku menemukan “Pintu Keberangkatan Internasional”. Ia berhenti dan menatapku. Matanya mengisyaratkan bahwa ia sedang tertekan dan dalam masalah.

 

“Ini untukmu,”katanya. Ia memberikan selembar tiket dan paspor. Disitu tertulis jelas “INGGRIS”. Aku mendongak dan menatapnya, tapi pandanganku buram karena air mata yang bersiap untuk tumpah.

 

“Nath…??”ucapku tertekan. “kau tidak serius kan?”tanyaku .

 

Ia menunduk. Samar-samar aku tau jika matanya merah. “semua pakaianmu sudah aku masukkan. Kau jangan takut dengan kuliahmu, karena aku sudah mengurus semua. Termasuk rumah yang akan kau tinggali.”

 

“kenapa aku harus ke Inggris ?” tanyaku lembut. Tapi sarat akan emosi. Aku menatapnya tajam dan penuh harap.

 

“Carine, ketahuilah jika aku berada dalam 3 pilihan. Aku, kamu, atau kita. Sesaat aku akan memilih kita, tapi itu tidak akan leih baik daripada memilih aku. Masa depanmu masih panjang,Carine.”

 

“Kau bicara apa sih ? Berhentilah berbicara masa depan. Aku tak butuh omong kosongmu itu !” kali ini benar-benar  tersulut amarah.

 

“please,percayalah padaku,”ucapnya lembut.

 

“wow.. percaya ? Kau menyuruhku percaya padamu setelah apa yang kau lakukan ? apa aku punya alasan untuk mempercayaimu ?”jawabku pedas. Air mata ini sudah tidak dapat kubendung lagi. Ia hanya menunduk tak bisa menjawab.

 

“Kemana saja kau ? menghilang tanpa alasan yang jelas. Aku kesepian! Kau tau bagaimana rasanya? Sakit,Nath! Sakit.. kau membuatku tidak percaya pada diriku sendiri bahwa aku adalah sahabat yang cukup baik bagimu. Kau juga membuatku berfikir jika AKU TAK PANTAS MEMPERCAYAIMU !! sekarang tiba-tiba kau datang dan memintaku percaya denganmu ?? AKU MUAK DENGAN SEMUA INI!!”

 

Kukeluarkan semua yang ada dibenakku. Aku sudah tak peduli bagaimana orang-orang menatapku tajam. Ia merengkuh tengkukku dan menaikku kedalam pelukannya. Aku terisak di dadanya yang bidang. Air mataku terus menetes.

 

“Please,Carine. Ini terakhir kalinya aku memintamu percaya padaku,”ucapnya juga terisak. Ia mengelus rambutku dengan lembut,sehingga aku merasa sedikit lebih tenang. “Maaf,Carine. Aku tidak pernah meminta kau akan memaafkanku. Aku hanya mempunyai dirimu sebagai satu-satunya teman dan keluargamu. Aku hanya ingin melakukan semua yang terbaik. Terima kasih atas semua yang kau lakukan terhadapku.”

 

Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba mengontrol emosiku. Aku bangkit dari pelukannya.

 

“Kuharap aku tidak menyesal telah mempercayaimu,”

 

“Pergilah,Carine. Pesawatmu berangkat 10 menit lagi.”ucapnya lirih dan terdengar serak.

 

Aku tau jika kalimat itu sangat berat diucapkannya. Aku juga tau jika dia tidak ingin aku pergi. Aku yakin ia mempunyai alasan yang kuat untuk melakukan ini semua.

 

“Aku bersumpah aku akan berusaha membencimu,”ucapku singkat sambil menarik koperku menjauh darinya.

 

“Sudah seharusnya,”

—-

Aku masih belum percaya jika ini Inggris. Tempat yang aku idam-idamkan ketika aku masih kecil dulu. Sekarang kakiku benar-benar menginjak tanah negara ini.

 

“Are you Miss Carine?”

 

“Yes. I am,”

 

“I’m Nicky. My friend asked me pick you up,”

 

Aku mengernyitkan dahi.

 

“Haha.. sorry. Pasti kau belum bisa mempercayai orang lain,”

 

“Nathan ? Nathan yang menyuruhmu?”

 

“tentu. Kau sudah tau rupanya,”jawabnya.

 

“Ayo..”ucapku.

 

Dia mengernyit. “Bukankah kau akan menjemputku?”kataku santai.

 

Ia tersenyum. Senyumnya begitu indah. Sangat manis. Hanya satu tingkat dibawah senyum dingin Nathan.

 

“Kuakui Nona,kau berbeda. Seharusnya kau tidak mempercayai orang begitu saja. Bagaimana jika aku hanya berpura-pura dan berniat membohongimu? Untung aku orang baik,”ucapnya panjang lebar.

 

Nicky benar. Tidak seharusnya  aku mempercayai orang begitu saja. Entah kenapa saat itu aku menuruti kata-kata Nathan untuk pergi ke sini. Hatiku hanya berkata jika ia punya alasan. Jika tidak, tidak mungkin ia mau, maksudku menyuruhku meninggalkannya begitu saja. Aku mempercayainya, dan aku tau jika dia orang baik.

 

Aku masuk kedalam mobil Audy berwarna biru metalik.  Nicky cukup pelan dalam mengemudikan mobil dengan alasan agar aku bisa menikmati seluruh London dengan baik.

 

“Kita makan dulu,”putusnya tiba-tiba. “Baiklah,”jawabku dan kembali menikmati bangunan-bangunan di negara ini.

 

Kami berhenti di restoran kecil bergaya kuno. Sungguh klasik. Aku benar-benar mengaguminya. Kai duduk di sudut restoran didepan dekorasi air yang sangat mengagumkan. Putaran lagu-lagu milik J. S Bach dan terkadang milik Beethoven seperti Fur Elise terdengar sangat menenangkan.

 

“Kau mengaguminya?”tanyanya tiba-tiba.

 

Aku tersenyum. “Tentu,”jawabku. Aku kembali memperhatikan restoran ini dan menikmati sensasi ketenangannya.

 

“Nathan memintaku agar membawamu kesini saat makan pertamamu di Inggris,”ucapnya tiba-tiba.

 

“Eh. Eh.. emh,” Entah kenapa aku menjadi cengo dan tak bisa menjawab apa-apa.

 

Kemudian ia membawaku ke sebuah apartement yang tergolong mewah. Aku sangat yakin aku akan tinggal disini. Aku masuk kedalam dan semakin terkesan dengan interiornya yang klasik dan elegan. Kami masuk kedalam lift dan Nicky memencet angka 37. Aku baru menyadari jika 37 adalah tombol terakhir yang ada dialam lift. Itu berarti lantai 37 adalah lantai tertinggi yang ada disini. Wow, impianku benar-benar terwujud.

——————–

Hari ini Nicky mengajakku makan di restoran kemarin. “Nick, apa kau yang menyiapkan semua ini ?”tanyaku memecah keheningan.

 

Ia mengernyit tanda tak mengerti. “Err.. maksudku apa apartment, restoran, sekolah, dan lain-lain kau yang mempersiapkannya ?”

 

Ia tersenyum dan berkata, “Tentu saja tidak. Mana mau aku merepotkan diriku sendiri untukmu. Hh, yang benar saja.” Ia menyendok makanan yang tersedia. “aku hanya mengantarmu saja. Nathan yang menyiapkan semuanya,”lanjutnya kemudian memasukkan makanannya kedalam mulutnya.

 

Hening.

 

“Semua begitu terencana bukan ?”ucapnya lirih sebelum meminum airnya. Kuakui kalimat itu sedikit membuatku bingung.

 

Benar, semua begitu terencana. Bahkan sangat detail. Ada maksud kenapa Nathan menyuruhku kemari.sesuatu yang tidak kuketahui. Sesuatu yang kini kuyakini bahwa aku akan lebih baik berada disini. Dan sesuatu yang menyangkut hidupku dan hidupnya.

 

“Apa yang sebenarnya terjadi?”tanyaku penasaran. “Suatu saat kau akan mengerti,”jawabnya.

 

“Aku ingin suatu saat itu sekarang,”ucapku tegas.

 

“Rupanya kau bukan orang yang sabar,Nona.”

 

Mengetahui penolakan darinya,aku memasang jurus puppy eyes andalanku. “Nicky,please..”

 

“Carine,”Nicky mulai berbicara. Wajahnya serius tapi ia menunjukkan ketenangan. “Ketahuilah, dia berada di 3 pilihan. Dia, kau, atau kalian. Aku yakin dalam satu detik dia akan memilih kalian. Tapi dia bukan orang yang bodoh. Memilih dirinya akan lebih baik dari memilih kalian. Masa depanmu masih panjang, Carine..”

 

Ucapannya.. itu sama dengan apa yang diucapkan Nathan saat dibandara.

 

Aku mengernyit. “Ceritakan lebih jelas. Jangan membuatku bingung,”

 

“Nathan pasti akan menceritakannya padamu.Be calm,lady!” ucapnya smbil tersenyum evil.

 

“Ya..ya..ya.. Nathan pasti akan menceritakannya. Sayangnya aku tidak tahu kapan itu.”rutukku.

 

Ia malah tertawa lebar. Entah apa yang ditertawakannya. “haha.. kau lucu. Bisa-bisanya kau masih percaya dengannya? Bukankah kau bersumpah untuk berusaha membencinya? Pantas saja kau mudah ditipu. Dasar bodoh,”ejeknya.

 

Ditipu.. Bodoh.. sesaat aku mencerna kata-kata itu. Ah, Sial. Jadi Nathan juga menceritakan kehidupan masa kecilku pada Nicky ? aku menatapnya garang. “Kau…” aku menarik nafas dalam. “Menyebalkan..!”

————————–

27 misscall dari nomor yang tak kukenal. Padahal aku mandi kurang dari 10 menit. Wow, sibuk sekali nomorku. Tapi, ah tidak juga. Panggilan dari nomor yang sama. Dan sepertinya ini nomor luar negeri. Indonesia ? Tapi siapa? Apa ini penting ?

 

Aku mengambil Hpku yang langsung bergetar dan membuatku kaget. Satu panggilan lagi dari nomor yang sama. Tepat sekali, padahal aku tadi mau menghubunginya. “Hallo,”sapaku.

 

Hening. Benar-benar tak ada suara. “Hallo?”ucapku sekali lagi. Tak ada respon dari si penelepon. Aku menajamkan pendengaranku. Hanya terdengar isakan kecil. Bukan isakan seorang wanita. Tapi laki-laki. “Hallo? Are you right?”tanyaku.

 

Tut..tut..tut.. telepon terputus begitu saja. Oke. Jika ini memang penting, dia pasti akn menghubungiku sekali lagi atau paling tidak mengirim sms –pikirku positif. Sekarang saatnya bersiap-siap untuk pergi karena saat ini aku sedang merapatkan upacara kelulusan dengan teman-temanku.

 

Pukul 04.35 p.m. saat aku sedang istirahat di kamar.

TING TONG

Aku membuka pintu. Kepalaku celingak-celinguk kekanan dan kekiri. Sepi, tak ada siapapun. Aku menutup pintu dan berjalan kembali kedalam rumah.

 

TING TONG

Aku berbalik dan berjalan menuju pintu LAGI. Nihil. Tak ada siapapun disana. Tunggu, ada bekas lumpur. Berarti benar, seseorang barusaja kemari. Ah, mungkin saja anak tetangga sebelah yang terkenal iseng. Saat aku berbalik, kakiku terasa menginjak sesuatu. Amplop. Kubolak balik amplop biru safir itu. Tak ada petunjuk sama sekali siapa pengirimnya. Tanpa pikir panjang, aku membukanya. KASET.

-TBC-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s