Ilusi Publik

Sebenarnya ini hanya kata kiasanku saja. kalimat ini untuk menggambarkan seseorang yang berbeda dari pandangan publik pada umumnya. Maksudku jika seseorang terlihat baik belum tentu ia benar-benar baik. Jika seseorang terlihat pendiam belum tentu jika ia benar-benar pendiam. Atau bisa juga sebaliknya. Orang yang terlihat urakan ternyata adalah seseorang yang baik, ramah, dan berbudi luhur.

Mungkin ada yang bertanya kenapa aku menulis ini. Itu karena aku menulis apa yang ingin aku tulis. Aku hanya ingin mengungkapkan bagaimana perasaanku tentang ilusi publik. Tidak lebih daripada itu.

Aku tidak ingin memuji diriku sendiri, tapi aku punya kemampuan lebih untuk mengetahui bagaimana kepribadian orang, hanya dengan melihat dan mendengar caranya berbicara. Ini memang sudah sangat biasa, tapi tetap saja ini kelebihanku. Baiklah, anggap saja aku seseorang yang perasa.

 

Aku tidak perlu terlalu banyak bukti untuk tau apa yang sedang terjadi. Otakku kan sudah i7,hehe. Oke,kembali. Aku mencoba menyambungkan satu bukti dengan bantuan imajinasi. Dan beruntungnya imajinasiku hampir selalu tepat. Entah ini keajaiban atau hanya keberuntungan yang terus menerus.

Aku juga selalu memikirkan segala kemungkinan yang ada. Melihat sesuatu dari sudut yang berbeda. Aku teringat rumus seorang jaksa dan detektif “selalu curiga”. Itulah yang selalu kulakukan. Selalu curiga dan tidak pernah berpikir pendek atau menggunakan perasaan. Karena pada dasarnya semua hal dapat diLOGIKA. Eits, itu tidak berarti aku tidak pernah menggunakan perasaanku. Hei, ini jaman modern. Jika kita tidak menggunakan logika dan akal, mudah bagi orang lain untuk menipu dan membohongi kita. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Perasaan lagi yang akan terluka. Iya kan?

Ada lagi pepatah “Don’t judge the book from its cover”. Itu sangat relevan dan nyata. Karena “cover” adalah ilusi.

Aku punya beberapa contoh yang pernah kualami:

Teman dekatku. Well, aku tau jika dia anak yang cerewet, manja, ceria, dan usil. Tapi entah kenapa guru conversationku berkata jika dia adalah orang yang kalem. OK, ini memang tidak bisa dibilang bukti. Tapi ini membuktikan jika dia sudah berhasil membuat ilusi yang baik, walaupun secara tidak sengaja.

Kakak kelas. Aku sudah berfikir jika dia anak yang baik, dan mungkin hampir semua orang juga berpikir begitu. Tapi ternyata ia bisa berkata kasar. Memang sih dia tidak mengucapkan didepanku atau aku tidak sengaja mendengar langsung. Tapi dengan status facebook yang mengandung kata “bullsh*t”itu ckup memberiku penilaian tentang dia.

Kali ini teman sekelasku. Hampir semua penilaian awal yang diberikan adalah dia laki-laki pendiam. Salah, benar-benar pendiam dan cool. Okelahh, aku bisa memahami sudut pandang mereka. Tapi pandangan pertamaku adalah dia orang yang sinis.

Aku satu kelompok dengan ketika itu kami mengerjakan hanya berdua, tapi ada temanku lain disana. Obrolan meluncur, ya walaupun agak kaku. Tapi aku menemukan sesuatu yang aneh dari cara bicaranya. Bukan cara bicara milik seseorang yang pendiam pastinya. Seperti ini “Nov,dicopne neng ndi?”tanya temanku yang ada disitu. “He? Gak ngerti. Hehe”jawabku. Tapi dia (orang yang kumaksud di no.3) jawab gini “neng irungmu.” Aku kaget tapi biasa saja (?). hanya dengan kalimat itu sudah jelas siapa dia sebenarnya. Aku juga mendengar beberapa kalimat lain, tapi aku tidak bisa menuliskannya. (read: Lupa) haha

Skip.. langsung saat pelajaran conversation. Kami disuruh membuat satu pertanyaan , bebas bertanya apa dan kepada siapa. Jadilah temanku bertanya padanya “Why you’re so quiet?”

Dalam hati aku bertanya sendiri “Diam? Yang benar saja?”hingga akhirnya da yang menyimpulkan bahwa pada dasarnya dia memang pendiam dan ‘shyful’. Shyful? Hello, seorang anak cheers yang biasa tampil didepan umum termasuk pemalu? What the hell!

Oke.. baiklah. Anggap saja anak-anak tidak tau jika dia ikut cheers. Bisa dimengertilah. Berdasarkan pertanyaan temanku tadi, sudah sangat jelas bahwa dia sangat berhasil membuat ilusi publik.

Skip.. saat presentasi kelompok. Anggota kami ada 4 orang dan salah satunya dia. Ketika aku menjawab pertanyaan dan berkata pada si penanya “sudah jelas?”, dia berkata padaku “Harus’e we muni puas,puas,puas??” dia berkata itu dengan sangat lirih, jadi bisa dipastikan kalau hanya aku yang mendengar kata-kata itu.  Kata-kata singkat, biasa, dan tidak penting, tapi bisa menunjukkan siapa dia sebenarnya.

Skip.. malam hari. aku satu kelompok lagi dengannya tapi kali ini berbeda materi. Aku bertanya sesuatu lewat pesan singkat “Lhohh.. bukannya tugas dikumpulkan sehari setelah pemberitahuan tugas diterima?” beberapa saat kemudian dia membalas “tarah b*jing*an og gurune. Ngekek’i tugas sakkarepe dewe. Blablabla…” (gak persis kayak gitu sih, tapi kurang lebih gitulah..). image dia yang diam  benar-benar runtuh saat itu juga.

Yang aku bingung, kenapa hanya aku yang sadar? Apa aku hrus bilang ke semuanya kalau penilaian mereka salah? Enggak kan, nggak mungkin. Pertama, gak bakal ada yang percaya denganku. kedua, aku bisa dituduh fitnah, merusak nama baik orang, membuka aib, dll. So, aku nunggu sampai ilusi ini kebuka dengan sendirinya. Tapi tetap saja rasanya nyesekk. Penilaian kita benar-benar GATOT aka GAGAL TOTAL. Dan tidak ada yang tau kecuali kita sendiri.

Akhirnya terbongkar juga sifatnya yang asli. Waktu mengerjakan biologi,dengan guyonan ringan dengan yang lain dia membalas “Godain aku dong”

Huekk.. Ingin muntah? Jelas lah. Kaget? Iya sekaligus enggak. Tapi mungkin anak-anak satu kelas benar-benar kaget. Aku yang tahu lebih dulu, bangga dong. Paling tidak aku satu tingkat lebih peka daripada mereka.

(note: jika salah satu dari readers adalah temanku dan tau siapa yang aku maksud, tolong DIAM. Ini bukan sesuatu untuk disebarkan. Dan Jangan nge-BASH aku. Aku Cuma ingin menulis apa yang ingin kutulis.)

Uraianku diatas memang tidak pentingt. Tapi paling tidak aku tau apa yang salah dari cara penilaianku dan bisa jadi pelajaran untuk selanjutnya. Aku juga tidak mau menciptakan ilusi publik. Biar saja orang lain menilaiku apa adanya. Aku ya aku. Aku yang terlihat diluar sama dengan aku yang terlihat didalam. ITS ME, SO WHAT?

 

Well, aku benar-benar menjelma menjadi makhluk paling cerewet. Selesai sajalah tulisanku kali ini. Remember this: “DON’T JUDGE THE BOOK FROM ITS COVER!”

*.* SEE YOU ^.^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s